AKSA: Band Eksperimental yang Membawakan Rajah di Gig Anak Muda

Kamus Sunda-Indonesia susunan S. Satjadibarata merumuskan rajah sebagai "nama semacam jampe (doa) yang biasa diamalkan oleh tukang pantun sebelum memulai bercerita. Meminta maaf kepada segala arwah dan keramat". Rajah bukan hanya doa, tetapi juga mengandung mantra, dilihat dari isinya, mantra dibagi menjadi enam bagian dengan fungsinya masing-masing yaitu jangjawokan, jampe, ajian, singlar, asihan, dan rajah.

Namun dalam rajah sendiri biasanya dipakai untuk keselamatan. Orang tua dulu biasa membaca rajah jika melewati tempat angker seperti melewati hutan belantara, membuka ladang, membuat irigasi, menempati rumah baru, meruwat, dan lain-lain. Ada sebagian masyarakat dulu maupun sekarang yang mendefinisikan rajah dalam pengertian berbeda. 

Nah, di Sumedang ada yang namanya Rajah Kasumedangan dengan juru rajahnya yaitu Darsum Dipa Atmaya, atau biasa kami menyapanya Ki Kebo Kenongo. Makanya kebanyakan menyebutnya rajah Ki Kebo. Ki Kebo Kenongo ini, melestarikan rajah sudah sejak lama sekali, turun temurun dari keluarganya. Ki Kebo melanjutkan dan melestarikan rajah setelah kepergian bapaknya. Rajah Kasumedangan itu, dibukukan ditulis ulang oleh Agus Mulyana.

Pada tahun 2020, pandemi masih hangat-hangatnya, tiga pemuda yang menyukai musik itu membuat grup bernama AKSA. Ada hal yang menarik dari AKSA ini, mereka membuat band eksperimental, dengan membawakan rajah tersebut. Mereka mempelajari satu per satu rajah tersebut, dan langsung datang kepada pemiliknya yaitu Ki Kebo untuk membedah dari setiap lirik dari rajah tersebut. 

AKSA, band eksperimental yang terdiri dari 3 orang ini (Sae, Bule, Ijal) sudah merilis Music Video dengan judul Jampe Pangasalan Manusa. Ya, yang mereka pelajari pertama dari rajah itu adalah Jampe Pangasalan Manusa. Tentang penciptaan manusia secara biologis. Butuh waktu sebulan untuk mengharmonisasikannya. Sekarang sudah ada lima rajah yang sudah mereka aransemen, yang semoga dalam dekat ini merilis mini albumnya.

Saat Gig di Watson Elementary Party. Foto: Dokumentasi Panitia

Alat musik yang mereka gunakan itu, tidak terlepas juga dari unsur-unsur alat musik buhun; karinding, dogdog, hatong. Selain itu juga memadukan gitar elektriknya dengan beberapa hasil eksperimentnya dengan menggunakan korek api, swipoa (alat untuk menghitung), didgeridoo dan beberapa alat musik lainnya. Setiap rajah yang mereka bawakan, akan berbeda pula alat musik yang mereka gunakan.

Kerap main dibeberapa gig anak muda, dalam dan luar kota juga. Tetap dengan membawa misinya, agar rajah kasumedangan ini, tetap terus bunyi, dan terus meregenerasi, biar tidak mati, dan semua orang tahu rajah tersebut. Ya, campaign yang terus digenjot oleh si AKSA tersebut seperti itu. 

Untuk palawargi yang penasaran band eksperimental asal Sumedang ini, bisa di cek akun youtube AKSA Official, atau ikuti @aksa_music nah, untuk ketiga pemuda tersebut bisa kepoin di instagramnya AKSA yah. 

Selamat berkarya palawargi Sumedang!

- Sponsored Ad - post-title
Katen Doe
Penulis

INIMAHSUMEDANG

-

Komentar

wave

Belum ada komentar.

Tinggalkan Komentar

wave

Cari Artikel