Benteng Darmaga Darangdan

Kabupaten Sumedang yang posisinya sekitar 45 km Timur Laut Kota Bandung. Bila bicara tentang Sumedang tidak bisa dipisahkan dengan sejarah masa Kolonial Belanda, seperti jalan raya Pos dengan Cadas Pangeran.

Namun bukan hanya Jalan Raya Pos yang menjadi peninggalan Kolonial Belanda, ada beberapa benteng peninggalan kolonial yang cukup terkenal di Sumedang, dua diantaranya adalah Benteng Koentji Panjoenan dan Benteng Palasari. Nah wargi Sumedang, kali ini kita tidak akan membahas kedua benteng itu, kita akan membahas salah satu peninggalan Kolonial yang mulai terlupakan, yaitu Benteng Darmaga Darangdan atau lebih dikenal dengan Benteng Bendungan Darangdan yang berlokasi di Lingkungan Darangdan, Kelurahan Kota Kulon, Kecamatan Sumedang Selatan.

Puing-puing Benteng Darmaga. Foto: Kegga

Benteng Darmaga Darangdan kurang lebih memiliki tinggi sekitar 6 meter, berdiri kokoh membelah aliran sungai Cipeles, Sungai Cipeles adalah sungai yang membelah wilayah Sumedang Kota dari Barat hingga Timur wilayah kota Sumedang, Kini Benteng Darmaga Darangdan hanya menyisakan puing-puing berupa 6 benteng yang kokoh yang ada di aliran sungai Cipeles, Besi-besi bekas Bendungan pun sudah tak nampak di lokasi tersebut, hanya sedikit yang tersisa dari benteng tersebut.

Bentang Darmaga Darangdan pun sempat dimanfaatkan sebagai jembatan penyebrangan oleh warga yang akan bertani. Pasalnya, Benteng tersebut di kelilingi oleh pesawahan milik warga setempat, sekitar tahun 1990 Benteng Bendungan Darmaga sudah tidak dipakai lagi untuk menyeberang karena banyak besi-besi dari benteng tersebut yang hilang entah ke mana.

Berdasarkan literatur yang ada, Benteng Darmaga ini memiliki fungsi sebagai benteng pertahanan dengan menggunakan fasilitas air sungai. Dengan memiliki pilar dengan pintu air yang lebih tinggi Benteng Darmaga ini digunakan untuk membendung air Sungai Cipeles. Jika pintu air benteng Darmaga ini ditutup, maka air yang terbendungnya akan meluap ke daerah daratan yang berada di hilirnya dan lebih rendah. Genangan air ke daratan ini digunakan oleh penjajah Belanda untuk menghambat laju gerakan musuh.

Kini Benteng tersebut hanya menjadi salah satu bukit kekuatan strategi kolonial pada masa perang berlangsung, tidak banyak literatur yang membahas benteng itu lebih dalam, tidak diketahui pasti kapan benteng itu di bangun, dan sampai kapan Benteng tersebut digunakan sebagai Bendungan.

Benteng itu pun kini terbengkalai nampak tak terawat bahkan tidak sedikit sampah dari sungai Cipeles yang menyangkut di area Benteng itu. Nah, wargi Sumedang ingat untuk selalu menjaga lingkungan sekitar ya. (gga)

- Sponsored Ad - post-title
Katen Doe
Penulis

INIMAHSUMEDANG

-

Komentar

wave

Belum ada komentar.

Tinggalkan Komentar

wave

Cari Artikel