Naskah Kuno Beraksara Pegon di Desa Kaduwulung

Palawargi Sumedang ada yang tahu aksara pegon? Jika palawargi Sumedang sudah pernah datang ke Museum Pangeran Geusan Ulun, mungkin pernah melihat naskah kuno bertuliskan huruf hijaiyyah, tapi bila dibaca ejaannya sunda, nah itulah aksara pegon sunda, atau ada yang menyebutnya dengan Arab-Sunda.

Banyak sekali naskah aksara pegon di bumi nusantara ini, aksara-aksara pegon yang digunakan pada naskah-naskah Sunda ada yang sama dengan huruf Hijaiyyah, tapi ada juga yang berbeda. Beberapa naskah Sunda yang bersumber dari naskah Melayu memiliki beberapa kesamaan cara kepenulisan, di samping perbedaan yang khas ejaannya.

Nah, palawargi di Dusun Kaduheuleut Desa Kaduwulung Kecamatan Situraja, ternyata ada pemilik naskah pegon loh. Ya, beliau bernama Omar. Naskah pegon yang beliau miliki yaitu, bertajuk Sajarah Karuhun Sumedang. Siapa sangka, ternyata di daerah Situraja ada yang memiliki naskah pegon tersebut. 

Naskah kuno tersebut disalin sekitar 1.900 melihat dari jenis kertasnya. Tebal naskah 32 halaman, halaman kosong; halaman 1, dan 14 Halaman yang ditulis 16 halaman. Kondisi fisiknya; kertas bergaris dibagi menjadi dua, kertas sudah berwarna kuning, tinta berwarna hitam pudar, disampul ulang, sampul pertama robek dimakan usia. Ukuran sampulnya 10,5 x 16,5cm, halaman nya 10,7 x 16,2cm dan ruang tulisan : 9,5 x 13,5cm. 

Sesuai dengan tajuk yang tertulis dalam sampul, Sajarah Karuhun Sumedang, isi dalam naskah tersebut penulis menuliskan garis keturunan leluhur Sumedang. Begini paragraf pertama yang ada dalam naskah tersebut; 

Ieu sajarah rundayan karuhun Sumedang, ieu kieu nganyatakakeun martabat karuhun Sumedang ungaling karuhun kang terahing ratu kunda purwa nipusaking susunan raja kang medar saking raja riyak kanduruwan ingaranan raja Napa. Mangka ratu Napa ne ing sarangenge, sarta lawan Batara Resik Putih anata pana ing awing-awang, mangka lawas-lawas nu kieu meurad taroneu saking awang mangka aninis maring puhaci sawa buh saking sarangenge nyurup ing bumi mangkakari-kari aniis ingaranan Ratu Dewa Guru.Yaiku ingaranan Sang Ratu Guru Haji. Guru Haji puputra Haji Putih, Haji Putih puputra Taji Malela. 

Halaman Pertama Naskah Beraksara Pegon. Foto: Ipul

Dari tulisan di atas tersebut, penulis menceritakan garis keturunan dari Prabu Taji Malela. Nah, tulisan lainnya dari Prabu Taji Malela, terus menceritakan garis keturunan lainnya. Ketika tim menanyakan kepada pemilik naskah yang sekarang, beliau tidak tahu siapa pengarang naskah tersebut, beliau hanya diberi amanat dari pamannya untuk menjaga naskah tersebut. Karena beberapa pendahulunya sudah meninggal. Sekarang, naskah tersebut sudah ditranslitetasi dan terjemahkan dan sudah ada buku khususnya dari Dispusipda Jawa Barat. Naskah pun sekarang sudah disimpan dalam box khusus penyimpanan naskah. 

Nah, palawargi Sumedang, apakah di daerah kalian ada naskah kuno juga? Sebetulnya, dengan pentingnya metransliterasi dan menterjemahkannya adalah untuk regenerasi kita selanjutnya, agar generasi selanjutnya tahu tentang pengetahuan, sejarah, dan leluhurnya. Ya, jika membicarakan Sumedang, banyak sekali cerita dan budayanya. Silakan komen ya di bawah jika ada tambahan. 

- Sponsored Ad - post-title
Katen Doe
Penulis

INIMAHSUMEDANG

-

Komentar

wave

Belum ada komentar.

Tinggalkan Komentar

wave

Cari Artikel