Cikidang : Air Terjun di Ujung Situraja

Salam Rimba, Salam Lestari

Kali ini kita melakukan perjalanan kedua dalam rangkaian Jelajah Curug Sumedang. Kita melakukan perjalanan dari kampus STIE Sebelas April Sumedang, jalan Angkrek No.19 (Sumedang Kota) menuju Desa Bangbayang Kecamatan Situraja. Air Terjun yang akan kita kunjungi kali ini namanya Cikidang. Sebenarnya ada banyak air terjun di daerah Bangbayang, ada sekitar sembilan Curug. Menurut info yang dihimpun dari Abah Oleng sebagai pupuhu (seseorang yang dituakan di sebuah daerah) di Bangbayang. Sekedar info, Abah Oleng sudah menguasai detail geografis daerahnya. Abah sudah  pernah mengunjungi semua curug-curug disana, serta menyusuri punggungan bukit bukit disana. Secara garis besarnya Abah mengetahui dari hulu sampai hilirnya Bangbayang.

Di foto bersama Abah Oleng sang juru kunci Bangbayang

Perjalanan tim dimulai jam 9 pagi menggunakan motor, untuk tim sendiri di perjalanan kali ini ada enam orang. Diperjalanan kami sempat mengisi bensin di POM Bensin Ambit, Situraja, nah buat teman-teman yang mau berkunjung ke Curug Cikidang bisa menggunakan POM Bensin Ambit sebagai patokan. Selanjutnya kalian bisa belok kanan di pangkalan Ojeg Ambit. Lebih akuratnya kita bisa menggunakan navigasi berjalan yaitu masyarakat sekitar untuk menuju Desa Bangbayang Ternyata ada banyak hambatan di perjalanan, dimulai dari kami salah menggunakan motor. Kami menggunakan motor matic dengan medan penuh tanjakan. Alhasil semua motor tim, bau karet kebakar semua. Ditengah perjalanan kami mendapatkan masalah lagi. Ban motor kami bocor semua. Untungnya kami sudah ada janji sebelumnya dengan teman kita, Aang. Putra Kepala Desa Bangbayang itu yang membantu kami mengantar ke tempat tambal ban yang ada satu-satunya di desa Bangbayang. Dengan bantuan Aang, kita bisa menggunakan motor para petugas aparat desa menuju lokasi Curug sebagai gantinya. Motor kami di biarkan disimpan di tempat tambal ban. Bukan menjadi sebuah kebetulan kita kenal Aang, teman kita itu alumnus STIE dan satu almamater dengan kita. Pertemuan dengan teman yang satu ini ternyata berbuah hasil. Tim Jelajah Curug Sumedang diterima dengan hangat di Desa Bangbayang. Bapak Umar sebagai Kepala Desa Bangbayang itu ayahnya teman kita Aang. Kami semua sempat mencari informasi tentang desa yang berada di paling ujung di Kecamatan Situraja kepada ayah Aang. Beliau menerangkan banyak hal menarik tentang desanya. Semua itu tidak akan saya terangkan di tulisan ini. Tidak akan cukup satu halaman ini. Pokonya Desa Bangbayang paling terbaik untuk singgah dan berlibur. Ditambah suasana yang asri dan dingin karena letak lokasinya berada di lembahan.

Bersama Bapak Umar Kepala Desa Bangbayang

Selepas dari Kantor Kepala Desa kami melanjutkan menuju Curug Cikidang. Dari sana cuman hanya membutuhkan dengan 20 menit menuju tempat penitipan motor. Sesampainya di ujung jalan kami menyimpan motor. Ada hal unik di desa yang satu ini. Kunci motor dibiarkan menggangtung begitu saja. Kalau kata teman saya, di desa ini tidak akan ada yang berani melakukan tindakan kriminal disini. Kami manut saja dengan teman kita dan terus melanjutkan perjalan. Kami bertujuh bersama teman kita menelusuri jalan setapak. Disela-sela rumah warga kami terus memperbincangkan air terjun Cikidang yang di baca lewat artikel, serta  melihat foto yang dikirim oleh Aang. Perjalanan kesana ternyata tidak menggunakan jalur darat. Kami di tengah perjalanan dihadapkan dengan jalur menyusuri aliran Sungai Cikidang. Tentunya dengan segala resiko yang telah dipertimbangkan, ketika hujan kita akan hayut terbawa arus aliran air. Menurut Aang di sungai-sungai Bambayang sering terjadi bandang ketika hujan deras. Informasi itu kami terima dan menghasilkan keputusan bahwa ketika cuaca mendung dan hujan semua tim harus memutuskan untuk pulang secepat mungkin walaupun kegiatan kami belum beres. Kegiatan kami di setiap Jelajah Curug Sumedang tidak hanya sekedar jalan-jalan. Tapi banyak hal yang harus kita kerjakan. Diantaranya kita membuat video perjalanan untuk konten YouTube, kita mengambil foto untuk kebutuhan Instagram, kita juga mencoba belajar menulis catatan perjalan untuk kebutuhan website. Perjalan menuju Cikidang sebenarnya hanya 20 menit. Sebentar memang untuk ukuran Curug yg masih asri dan kualitas airnya jernih. Hanya di tengah perjalanan, sepatu kami basah semua. Dari lutut kebawah dipastikan akan basah. Sesampainya di curug kami semua menemukan keanehan karena curugnya ternyata ada dua dengan lokasi yang sama. Ketika saya bertanya kepada Aang, jawabannya Curug tersebut pernah longsor 2015 lalu. Karena kejadian tersebut banyak perubahan yg terjadi di Cikidang. Hal ini tidak menurunkan keindahan Cikidang. Air terjun ini tetap menunjukan kharismatiknya. Data ketinggian yang kami dapat dari Kepala Desa, Abah Oleng, dan Aang hampir sama. Ketinggian curug sekitar 15-20 meter. Kami tidak sempat mengukur ketinggian menggunakan altimeter yang telah kami lakukan di jelajah Curug sebelumnya. Ketinggian Curug  yang kedua sekitar 3-4 meter. Dengan metode pemngambilan data, wawancara.

Di Cikidang kami menikmati semua keindahan yang telah di sediakan alam Bangbayang. Kami sempat berfoto, membuat video dan saling bercanda satu sama lain. Disana kami juga makan siang terlebih dahulu.. Karena waktu sudah menunjukan jam 12 yang artinya sudah jam makan siang. Kami membuka bekal yang sudah di bawa dari rumah masing-masing. Nasi beserta lauknya di bawa menggunakan kotak nasi Tupperware dan menggunakan juga tumbler sebagai tempat air minum. Anggota tim semua sudah sepakat dalam setiap perjalanan harus membawa kotak nasi dan Tumbler agar tidak menghasilkan sampah. Ada hal yang lebih menarik ternyata dalam perjalanan kali ini. Abah Oleng menceritakan semuanya. Kita mengetahui asal-usul nama curug. Cikidang berasal dari Cai dan Kidang yang artinya Cai dan Mencek (rusa khas Jawa barat). Tempat indah ini ternyata dulunya sering dijumpai rusa khas Jawa Barat minum air. Abah Oleng juga mendapatkan informasi itu secara turun temurun dari generasi sebelumnya. Ketika ditanya soal hewan itu masih ada atau tidak, ternyata masih sering dijumpai di daerah-daerah tertentu. Kami semua belum beruntung untuk bertemu hewan khas Bambayang yang disebut “embe leuweung”. Mudah-mudahan di kemudian hari kita bisa berjumpa dengan embe leuweung.

Tim membawa kotak nasi dan botol minum yang tidak sekali pakai

Sesudah kenyang dengan semua kenikmatan Curug Cikidang, kami memutuskan untuk pulang. Karena cuaca yang sudah mendung di bagian hilir dan hujan mulai turun perlahan. Sebelum pulang kami berkunjung ke rumah Abah Oleng dan Bapak Umar untuk pamit pulang. Alhamdulilah perjalanan kali ini berjalan lancar. Semoga kalian bisa menikmati tulisan ini. Sampai bertemu di perjalanan selanjutnya.

Salam hangat dari kita

 

Catatan Perjalanan

Jelajah Curug Sumedang – MAPASAS

4 Maret 2019

Oleh MAPASAS

Facebook Comments
Cikidang : Air Terjun di Ujung Situraja

You May Also Like