Kembang 6 Rupa: Pertemuan saya dengan Sunda Wiwitan

Ada berbagai cara untuk menghabiskan malam tahun baru, kami memilih pergi menghadiri kegiatan Bersila Vol. 1 di Rumah Kayu Gunung Puyuh. Di kegiatan Bersila perdana ini, penyelenggara bekerjasama dengan Yayasan Kampung Halaman memutarkan film dokumenter Kembang 6 Rupa. Sebuah film seri dokumenter pendek tentang 6 perempuan dengan latar belakang dan isu yang berbeda. Di kegiatan ini, hanya diputarkan 3 film.

Bersila Vol. 1
Credit: instagram.com/pandawabs

Film pertama dan untuk saya pribadi paling menarik adalah film yang mengangkat kisah Anih Kurniasih (15 tahun) dari Desa Cigugur, Kuningan, Jawa Barat yang meyakini agama leluhurnya: Sunda Wiwitan.

Sunda Wiwitan adalah kepercayaan pemujaan terhadap kekuatan alam dan arwah leluhur (animisme dan dinamisme). Sebagian berpendat, bahwa Sunda Wiwitan juga percaya pada kekuatan tunggal tak berwujud yang disebut Sang Hyang Kersa yang disamakan dengan Tuhan Yang Maha Esa. Menurut panganutnya, Sunda Wiwitan merupakan kepercayaan yang dianut sangat kuat sejak lama oleh orang Sunda sebelum datangnya ajaran Hindu dan Islam. Hal itu bisa saja menjadi alasa kenapa di Tanah Sunda tidak banyak candi yang ditemukan, yang biasanya digunakan untuk peribadatan Hindu/Budha. 

Istilah Sunda Wiwitan mungkin pernah kita dengar. Tapi dari film inilah saya tahu bahwa ada sekelompok masyarakat yang masih menjadikannya sebagai agama.  Ada kurang lebih 3.000 penganut Sunda Wiwitan di Cigugur, Kuningan yang secara tidak langsung mendapatkan diskriminasi dari lingkungan. Terutama mengenai administrasi negara, karena seperti kita tahu, Indonesia hanya mengakui 6 agama. Hal sesederhana tidak mencantumkan agama di KTP, menjadi penghalang untuk membuat rekening bank dan melanjutkan pendidikan ke tingkat selanjutnya.

Selain di Cigugur, penganut Sunda Wiwitan ini juga dapat kita temukan di beberapa desa di Banten, seperti di Kanekes, Lebak Banten, Ciptagelar Kasepuhan Banten Kidul, Cisolok Sukabumi, Kampung Naga, dan Kabupaten Bogor. Berbeda dengan di Cigugur, komunitas Sunda Wiwitan di Kampung Urug, Bogor hanya menganggap ini sebagai upaya pelestarian budaya saja, bukan agama. Karena tuntunan moral, aturan dan pelajaran budi pekerti Sunda Wiwitan sejalan dengan kebaikan universal dan agama seperti Islam.

Pertemuan saya dengan Sunda Wiwitan hari itu, mendorong saya untuk membaca kembali mengenai sejarah Sunda Kuno. Dan mengingatkan saya tentang salah satu film komersil yang sedang saya tunggu yang relevan dengan peninggalan Sunda adalah Firegate, film mengenai megalitikum Gunung Padang.

Selain film dokumenter mengenai Sunda Wiwitan, 2 film lain yang diputar adalah Nala Sahita Putri (17 tahun), anggota perempuan yang sangat kritis di GAMA 55, sebuah sub Karang Taruna di Dusun Krapyak, Desa Wedomar-­ tani, DIY. Yang mengangkat isu keadilan gender dan kebebasan berpendapat.

Dan Pipit Fitrianti (16 tahun) dari Desa Cibeureum Wetan, Sumedang, gadis ceria yang sudah kenyang diberi stigma sebagai “cabe-­cabean” oleh orang-­orang di kampungnya. Mengangkat isu keadilan gender dan kualitas pendidikan.

Cek trailer Film dokumenter Kembang 6 Rupa berikut

Kegiatan Bersila, mengingatkan kita berbagai isu keseharian, namun begitu dekat. Membangung rasa simpatik kita dan menyadarkan kembali bahwa menyeimbangkan menonton film dokumenter dan film komersil menjadi penting!

Yuk ikutan Bersila Vol. 2!

Penulis:
Sutisna Mulyana

Bahan bacaan:

Featured image: print.kompas.com/muda

Facebook Comments
Kembang 6 Rupa: Pertemuan saya dengan Sunda Wiwitan

You May Also Like