Malala Yousafzai Inspirasi Dunia #4

I Am Malala: The Girl Who Stood Up for Education and Was Shot by the Taliban adalah judul bukunya (2013). Sedangkan di dalam buku itu sendiri, Malala mengatakan dia lebih suka dikenang sebagai seorang anak perempuan yang memperjuangkan kesamaan hak pendidikan terhadap anak perempuan (di seluruh dunia) daripada dikenang sebagai seorang anak perempuan yang pernah ditembak Taliban. Buku ini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Penerbit Mizan (2014). Saya sudah membeli dan langsung membacanya pada Mei 2014. Tulisan ini saya buat berdasarkan buku Malala terjemahan bahasa Indonesia dari Penerbit Mizan itu, dan beberapa literatur lainnya. Malala Yousafzai, lahir di Mingora, Distrik (Lembah) Swat, Pakistan, 12 Juli 1997. Ayahnya bernama Ziauddin Yousafzai, dan ibunya bernama Tor Pekai Yousafzai. Dengan dua adik laki-lakinya, Khushal dan Atal. Dari suku Pusthun. Sebagaimana mayoritas orang Pakistan, mereka penganut agama Islam Sunni. Pada 9 Oktober 2012, sebuah truk yang dimodifikasi sebagai bus Sekolah “Khushal” – sekolah milik ayah Malala — di kota Mingora, sedang membawa sejumlah murid perempuan pulang dari sekolah mereka, salah satunya adalah Malala. Tiba-tiba  sekolah itu dihadang oleh dua laki-laki muda bersenjata dari Taliban. Salah satunya menaiki belakang truk itu, lalu bertanya, “Yang mana Malala?” Itulah pertanyaan yang sempat didengar oleh Malala, sebelum dia kehilangan kesadaran. Pemuda Taliban itu menembaknya dua kali, tembakan pertama mengena kepala di dekat mata kirinya, dan yang kedua mengena lehernya. Malala roboh bermandikan darahnya sendiri. Ya, Malala ditembak dengan maksud dibunuh oleh Taliban, karena dia seorang anak perempuan yang berani menantang Taliban yang melarang anak-anak perempuan sekolah. Tak perduli dia hanya seorang anak perempuan remaja yang baru berusia 16 tahun. Saat itu Taliban di bawah pimpinan Maulana Fazlullah yang menguasai Lembah Swat melarang semua anak perempuan sekolah. Mujizat Tuhan menyertai Malala, meskipun menderita luka sangat parah, nyawanya berhasil diselamatkan. Setelah dioperasi untuk mengeluarkan peluru yang bersarang di kepalanya, dan beberapa hari dirawat di sebuah rumah sakit militer di Peshawar,  Pakistan, dia diterbangkan ke Inggris, untuk menjalani operasi dan perawatan intensif yang jauh lebih baik di Rumah Sakit Queen Elizabeth, di Birmingham. Setelah nyawanya berhasil diselamatkan oleh tim dokter rumah sakit itu, mereka juga melakukan bedah syaraf di wajah Malala, agar wajahnya bisa dikembalikan sesempurna mungkin. Total sekitar 6 bulan Malala harus berada di rumah sakit itu untuk menjalani beberapakali operasi dan perawatan pemulihan. Pimpinan Taliban Pakistan, Adnan Rasheed, mengirim surat kepada Malala, menjelaskan bahwa dia hendak dibunuh bukan karena sebagai seorang penggiat pendidikan anak perempuan, tetapi karena sikapnya yang terlalu kritis terhadap Taliban. Rasheed menawarkan agar Malala mau kembali ke Pakistan untuk melanjutkan sekolahnya dengan aman, asalkan menuruti aturan-aturan yang telah ditetapkan Taliban, antara lain kewajiban memakai burqa. Malala tidak menjawab surat itu, meskipun banyak orang yang menyarankan untuk menjawabnya. Alasan Malala, karena dia merasa haknya untuk sekolah bukan tergantung dari Taliban, tetapi memang sudah menjadi haknya sebagai seorang manusia ciptaan Allah.

Malala melanjutkan sekolahnya di Birmingham, tinggal di sebuah rumah yang disediakan oleh pemerintah Inggris bekerjasama dengan pemerintah Pakistan, bersama ayah, ibu dan dua adik laki-lakinya itu. Pada 2013, Pemerintah Inggris juga mengfasilitasi keluarga Malala untuk naik haji. Pada 12 Juli 2013, bertepatan dengan hari ulang tahunnya yang keenam belas, Malala berpidato di Forum Majelis Kaum Muda di Markas Besar PBB, di New York, Amerika Serikat. Inti pidatonya berbicara mengenai hak-hak (anak) perempuan untuk bersekolah, perlawanan terhadap terorisme dan kebodohan. Salah satu kalimatnya yang terkenal adalah, dengan “satu anak, satu guru, satu buku, satu pena, bisa mengubah dunia.” Selesai pidato semua orang, termasuk Sekretaris Jenderan PBB, Ban Ki-moon melakukan standing ovation untuk Malala. PBB menetapkan tanggal 12 Juli sebagai “Hari Malala,” untuk memperingati hari hak-hak perempuan memperoleh pendidikan yang sama dengan siapa pun. Malala ketika berpidato di Markas Besar PBB, New York, AS, 12 Juli 2013 (rferl.com) Setelah berpidato di PBB, Malala menerima banyak sekali pesan dukungan dari seluruh dunia, tetapi dari negerinya sendiri nyaris hanya ada keheningan. Namun, di Twitter dan Facebook, masyarakat Pakistan banyak yang malah menghujatnya. Mereka menuduhnya bicara di PBB karena “nafsu remaja untuk menjadi terkenal.” Salah seorang berkata, “Lupakan citra negaramu, lupakan soal sekolah. Pada akhirnya, dia akan mendapatkan apa yang diburunya, kehidupan mewah di luar negeri.” Malala menanggapi di bukunya itu, dia bilang, dia mengerti kenapa sampai rakyat Pakistan banyak yang bersikap sinis kepadanya. Itu tak lepas selama ini mereka melihat para pemimpin dan politisi di negerinya yang mengucapkan janji-janji yang tidak pernah mereka tepati. “Segalanya di Pakistan malah semakin memburuk setiap harinya. Serangan teroris yang tiada habis-habisanya telah membuat seluruh negeri terguncang. Orang-orang kehilangan kepercayaan terhadap satu sama lain. Namun, aku ingin semua orang tahu kalau aku menginginkan dukungan untuk diriku sendiri, aku menginginkan dukungan itu untuk tujuanku, yaitu perdamaian dan pendidikan.” “Duniaku telah berubah begitu banyak. Dirak-rak ruang tamu rumah sewaan kami terdapat penghargaan-penghargaan dari seluruh dunia – Amerika Serikat, India, Prancis, Spanyol, Italia, dan Austraia, dan banyak tempat lain. Aku bahkan dinominasikan untuk Penghargaan Nobel di bidang Perdamaian, orang termuda yang pernah dinominasikan …” demikian salah satu bagian Epilog yang ditulis Malala di bukunya itu. Nobel Perdamaian 2013 bukan untuk Malala … , baru pada 2014, Nobel Perdamaian itu diperuntukkan kepada Malala. Diumumkan oleh Panitia Nobel di Norwegia,  pada Jumat, 10 Oktober 2014. Nobel Perdamaian 2014 diperuntukkan  bagi Malala bersama dengan pejuang hak-hak asasi anak-anak asal India, Kailash Satyarthi (60). Penghargaan Nobel tahun ini merupakan hal yang sangat menarik perhatian dunia, selain karena Malala adalah penerima Nobel termuda  untuk semua kategori sepanjang sejarah, juga karena karena dua penerimanya dari dua generasi yang terpaut usia sangat jauh, 17 dan 60 tahun, dan keduanya berasal dari dua negara yang sering bertikai karena perbedan agama; Islam dan Hindu, serta Pakistan dan India. Ketika pemenang Nobel Perdamaian itu diumumkan dari Norwegia,  konflik bersenjata antara Pakistan dan India sedang berlangsung di kawasan Kashmir, jatuh korban jiwa mencapai 17 orang tewas. Perdana Menteri Pakistan Nawaz Sharif menyampaikan apresiasinya yang besar kepada Malala, dengan menyebutkan Malala sebagai kebanggaan Pakistan. “Dia telah membuat saudara-saudara sebangsanya bangga. Prestasinya tidak ada yang menandingi dan menyamai. Anak-anak di seluruh dunia harus mengikuti jejak perjuangan dankomitmennya,” ujar Sharif. Latar Belakang Keluarga Malala Buku dengan ketebalan 383 halaman ini dibagi dalam lima bagian. Bagian Satu: Sebelum Taliban, Bagian Dua: Lembah Kematian, Bagian Ketiga: Tiga Anak Perempuan, Tiga Peluru, Bagian Keempat: Antara Hidup dan Mati, dan Bagian Kelima: Kehidupan Kedua.  Semuanya ada 24 Bab, ditutup dengan Epilog dari Malala. Malala menulis bukunya ini bersama dengan Chritina Lamb, seorang jurnalis kawakan yang sering menulis tentang Pakistan dan Afghanistan. Dari bukunya ini kita bisa mengenal lebih dekat dengan remaja perempuan yang sangat luar biasa perhatiannya terhadap pendidikan, terutama bagi anak-anak, baik perempuan, maupun laki-laki. Juga latar belakang jiwa sosialnya yang sangat tinggi dalam menolong sesama. Di usianya yang masih sangat belia, Malala telah mendirikan yayasan kemanusiannya yang dinamakan Malala Fund, untuk membantu anak-anak yang menderita karena diperlakukan tidak adil, dirampas hak-hak asasinya, korban peperangan, dan sebagainya. Bersama yayasannya itu Malala sudah banyak mengunjungi negara yang terdapat banyak anak-anak tidak bisa sekolah karena berbagai faktor. Misalnya, tepat pada ulang tahunnya yang ke-17 pada 12 Juli 2014 ini, Malala “merayakannya” dengan mengunjungi Nigeria, bertemu dengan Presiden Nigeria Goodluck Jonathan, dan berbela rasa dengan keluarga dari 200 anak perempuan yang diculik milisi Boko Haram di sekolah. Dia menyerukan kepada milisi agar menghentikan kekerasan atas nama agama. Sejak usia 11-12 tahun Malala sudah tertarik dengan berbagai masalah mengenai politik, sosial, dan agama dengan fasih dan kritis. Oleh karena itulah dia memperoleh banyak penghargaan dari pemerintah Pakistan, dan beberapakali diwawancara media setempat, koran, radio, maupun televisi. 14131591901488485890 Lukisan Malala ketika masih berusia 12 tahun. Lukisan ini menunjukkan mimpi keharmonisan antaragama/keyakinan di Pakistan dan di dunia (sumber: economist.com) Misalnya, ketika Taliban mulai secara brutal membunuh penduduk Swat dengan alasan mereka melanggar hukum Islam yang sudah mereka tentukan, dalam beberapa wawancara, Malala berkata, “Aku tidak mengerti apa yang dilakukan Taliban. Mereka menganiaya agama kami. Bagaimana kau bisa menerima Islam, jika aku menodong pistol di kepalamu dan mengatakan Islam adalah agama damai dan sejati? Jika mereka ingin semua orang di dunia menjadi Muslim, mengapa mereka tidak memperlihatkan diri mereka sebagai Muslim yang baik terlebih dulu?” “Ada perkataan dalam Al-Quran, “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap,” kata Malala, “Jika seorang lelaki, Fazlullah, bisa menghancurkan segalanya, mengapa seorang anak perempuan tidak bisa mengubahnya?” Malala membuktikan  tentara,  senapan dan bom bisa dikalahkan oleh seorang anak perempuan, pena dan buku. Media di Pakistan  menjulukinya dengan sebutan “tara jenai”, “gadis bersinar cemerlang”, dan “pakha jenai”, “bijak melampui usia.” Keluarga Youtsafzai berbeda dengan kebanyakan keluarga di Pakistan. Keluarga Yousafzai adalah keluarga yang demokratis, dan tidak membeda-bedakan perlakuannya terhadap anak perempuan. Ayahnya, Ziauddin Yousafzai, bahkan sangat bangga dengan Malala, ketika dia lahir. Ayah berkata kepada orang-orang di desanya ketika Malala lahir, “Aku tahu ada sesuatu yang berbeda dari anak ini.” Nama Malala juga berasal dari nama Malalai dari Maiwand, pahlawan perempuan terbesar Afghanistan. Orang Pasthun terdiri dari banyak suku yang tercerai-berai antara Pakistan dan Afghanistan. Ziauddin adalah penggiat demokrasi, sangat kritis, sangat berani dalam mengemukakan pendapatnya (bahkan kepada Taliban sekali pun), dan sangat tinggi antusiasmenya terhadap pendidikan sekolah. Oleh karena itu sejak muda dia terus berusaha mati-matian untuk membangun sekolah, meskipun saat itu dia tidak punya uang, karena berasal dari keluarga miskin. Namun berkat kegigihannya yang luar biasa akhirnya bersama temannya, dia berhasil juga membangun sekolah untuk anak laki-laki  dan perempuan. Di situ pulahlah Ziauddin terus mendorong dan memberi semangat yang tinggi kepada Malala untuk sekolah. Berkat asuhan ayahnya, Malala tumbuh menjadi anak yang juga sangat tinggi semangatnya untuk belajar di sekolah, bahkan jauh lebih tinggi daripada kedua adik laki-lakinya. Ketika dua adiknya itu lebih banyak bermain dengan mainan dan dengan ayam peliharaan mereka, Malala lebih banyak berkonsentrasi untuk belajar, dan bersekolah. Sampai saat terakhir, sebelum Malala ditembak Taliban, Ziauddin sudah punya tiga gedung sekolah dengan 1.500 orang murid laki-laki dan perempuan, 40 orang guru laki-laki, dan 30 guru perempuan. Sikap Ziauddin yang demokratis dan sangat berani itu tercermin antara lain ketika universitas tempatnya mengajar menggelar diskusi tentang novel Satanic Verses yang ditulis oleh Salman Rusdhie, yang kemudian difatwa mati oleh Ayatollah Khomeini, pemimpin tertinggi Iran ketika itu. Meskipun Ziauddin sependapat bahwa novel itu menghina Islam, tapi sangat meyakini kebebasan berbicara. “Pertama-tama, marilah kita baca buku itu, lalu mengapa kita tidak meresponnya dengan buku kita sendiri,” sarannya. Kemudian dengan suara menggelegar, dia berkata, “Apakah agama Islam sebegitu lemahnya sehingga tidak bisa menoleransi sebuah buku yang menentangnya? Itu bukan Islam-ku!” Demikian antar lain gambaran keberanian Ziauddin dalam mengemukakan pendapatnya, dan karakter sang ayah itulah yang rupanya menurun kepada Malala, bahkan sejak masih balita. Dia juga sering diajak ayahnya untuk mendengar ketika ayahnya berdiskusi tentang berbagai masalah sosial dan politik di negaranya itu. Sebelum Taliban, Lembah Sorga Dunia Kebebasan anak perempuan bersekolah mulai menunjukkan gangguannya ketika pengaruh Taliban mulai merasuk ke Swat, dengan hadirnya seorang laki-laki bernama Ghulamullah, yang menyebutkan dirinya sebagai seorang mufti atau maulana. Orang ini tidak senang melihat ada anak-anak perempuan sekolah. Mufti itu menemui pemilik gedung yang disewa Ziauddin sebagai sekolah itu, memintanya untuk mengambil kembali gedung itu agar sekolah itu ditutup. Alasannya Ziauddin telah melakukan perbuatan haram, dengam membuka sekolah untuk anak perempuan. Jika pemilik gedung itu melakukan apa yang diminta Mufti itu, maka dia pasti masuk sorga sebagai pahalanya. Tetapi, pemilik gedung itu menolaknya, dan melaporkan kepada Ziauddin. Mufti itu belum menyerah, dia kemudian mengajak tujuh orang pemuka agama datang ke rumah Ziauddin, dengan mengatasnamakan Ulama, Tablighi, dan Taliban, menasihati Ziauddin tentang Islam yang melarang perempuan sekolah. Tetapi, Ziauddin sama sekali tidak takut, tetap pada pendiriannya. Dia berdebat hebat dengan Mufti itu, yang akhirnya meninggalkan rumah itu karena kalah berdebat. Tetapi, Ziauddin yakin persoalan belum selesai. Mulai saat itulah dia mulai was-was. Itulah masa-masa menjelang kedatangan Taliban, yang dikisahkan Malala di dalam bukunya. Keberanian ayahnya benar-benar mewarisi kepada dirinya, padahal usianya barulah 12 tahun sampai ketika dia mulai berani mengutarakan hak anak perempuan untuk sekolah. Malala ingat pesan ayahnya: Bicaralah demi kebenaran, maka rasa takutmu akan ditaklukkan. Di dalam bukunya itu Malala juga menceritakan tentang masa-masa indah kehidupan penduduk Lembah Swat yang dikatakan sebagai lembah terindah dan sorga dunia itu. Dia dan teman-teman  sekolahnya sangat senang ketika megikuti wisata sekolah, ke lokasi-lokasi indah dan bersejarah di sana. Di antaranya lokasi di mana terdapat situs-situs bersejarah, patung-patung Budha yang sudah ada di sana sejak 7 abad lampau. Semua itu kelak dihancurkan Taliban ketika mereka menguasai Lembah Swat.
Kedatangan Taliban, Lembah Kematian Taliban mulai masuk ke Lembah Swat, saat Malala baru berusia 10 tahun. Pemimpin Taliban di Lembah Swat bernama Maulana Fazlullah. Mula-mula mereka bersikap sangat simpatik sehingga dengan mudah mengambil simpatik penduduk Swat. Fazlullah muncul di Imam Deri, sebuah desa kecil persis beberapa kilometer di luar Mingora di sisi seberang Sungat Swat, dan membangun radio ilegalnya. Radio ini kemudian dipakai sebagai propaganda Taliban di Lembah Swat dan sangat mempengaruhi penduduk di sana. Di Lembah Swat, penduduknya menerima informasi hanya dari radio karena sebagian besar penduduknya tidak punya TV dan buta huruf. Terutama kaum perempuannya, termasuk  Tor Pekai Yousafzai, ibu Malala. Mula-mula Fazlullah kelihatan sangat bijak. Dia memperkenalkan diri sebagai pembaru Islam dan penafsir Al-Quran. Dia mendorong orang agar menjalankan kebiasaan-kebiasaan baik dan meninggalkan praktik-praktik yang menurutnya buruk. Ia sering menagis ketika berbicara tentang kecintaan terhadap Islam. Penduduk Swat menganggapnya sebagai penafsir Quran yang baik dan mengagumi karismanya. Menurut Malala penduduk di Lembah Swat mula-mula sangat menyukai perkataan Fazlullah tentang penerapan hukum Islam, karena semua orang merasa frustrasi dengan sistem peradilan Pakistan yang menggantikan sistem peradilan masyarakat Swat ketika wilayah itu melebur ke Pakistan. Demikian juga pemerintahan yang kerap hanya mengumbar janji dan korup menambah faktor mudahnya ajaran-ajaran Taliban diterima, tetapi setelah Taliban menunjukkan karakter aslinya, barulah penduduk Swat mengalami ketakutan yang sangat. Orang berduit cepat-cepat keluar dari Swat, sedangkan yang tak punya uang cukup, terpaksa pasrah, dan menjadi korban kebrutalan Taliban. Setelah Taliban berhasil menguasai hati penduduk Swat, mulailah keluar berbagai larangan dengan alasan tidak sesuai dengan hukum Islam dan sejumlah kewajiban: Dilarang memutar dan mendengar musik, dilarang bernyanyi dan menari, dilarang menonton TV, anak perempuan haram untuk sekolah, perempuan dilarang keluar rumah tanpa didampingi mahram, dan jika di luar  harus memakai burqah, laki-laki dewasa harus memelihara jenggot, dan sebagainya. Pelanggarnya diancam dihukum cambuk sampai dieksekusi mati. Dalam waktu enam bulan, semua orang menyingkirkan TV, DVD, dan CD mereka. Orang-orang Fazlullah mengumpulkan menjadi tumpukan-tumpukan besar di jalanan dan membakar semuanya. Ratusan toko CD dan DVD ditutup secara sukarela dan para pemiliknya mendapat kompensasi. Keluarga Malala menyembunyikan TV mereka di dalam lemari, ketika menontonnya suaranya diperkecil sekecil mungkin, karena selalu ada orang-orang Taliban yang patroli memasang telinga. Begitu ada suara yang mencurigakan, mereka akan menerobos masuk, jika ditemukan TV atau benda lainnya yang dilarang, mereka akan merampasnya, dan membanting/merusakannya di jalanan. Anak-anak perempuan yang akhirnya memutuskan tidak melanjutkan sekolahnya sesuai perintah sang Mullah, disebutkan namanya satu per satu di Mullah Radio disertai dengan ucapan selamat dan puji-pujian lainnya. Anak perempuan lain yang takut, tetapi masih ingin terus sekolah, meninggalkan Swat. Kemudian, sekolah-sekolah yang tetap menyekolahkan anak-anak perempuan pun mulai diledakkan dengan bom. Sekolah pertama yang diledakkan ialah Shawat Zangai, SD negeri untuk anak perempuan di Matta. Kemudian susul menyusul sekolah-sekolah lainnya di distrik Swat, termasuk di Mingora, kota tempat tinggal Malala. Sampai 2008, total ada 400 sekolah yang diledakkan Taliban di Swat. Pada 7 Oktober 2008, sekolah perempuan Sangota Convent School dan sekolah anak lelaki Excelsior College diledakkan sampai rata dengan tanah. Semua murid dan gurunya sudah dievakuasi karena mendapat ancaman. Excelsior punya lebih dari 2.000 murid dan Dangota punya 1.000 murid. Ziauddin, ayah Malala dengan marah berbicara di Voice of America, dia mengutuk pegeboman itu. Juru bicara Taliban, Muslim Khan juga tersambung via telepon. “Apa yang keliru dengan kedua sekolah itu sehinggakau harus mengebom mereka?” Muslim Khan menjawab karena Sangota adalah sekolah biara yang mengajarkan Kristenitas dan Exelsior adalah sekolah campuran yang mengajar anak laki-laki dan perempuan bersama-sama. “Dua-duanya keliru! Jawab Ziauddin. “Sekolah Sangota sudah berdiri sejak 1960-an dan tidak pernah mengubah siapa pun menjadi Kristen – sesungguhnya beberapa di antara mereka malah masuk Islam. Dan Exelcior hanya sekolah campuran di jenjang SD.” Muslim Khan tidak menjawab. Setelah larangan-larangan itu diberlakukan di Swat, berikutnya adalah eksekusi bagi yang melanggarnya. Pada Januari 2009, sekitar pukul sembilan malam yang dingin, seorang perempuan penari bernama Shabana, didatangi sejumlah anggota Taliban di rumahnya, mereka hendak membunuhnya. Tetangga-tetangganya mendengar Shabana menjerit-jerit, “Aku berjanji akan berhenti! Aku berjanji tidak akan menyanyi dan menari lagi! Tinggalkan aku, demi Allah! Aku perempuan, seorang Muslim. Jangan membunuhku!” Lalu terdengar tembakan-tembakan, mayat Shabanah penuh lubang peluru diseret ke Greek Chowk, sebuah alun-alun di Mingora. Di situlah tempat biasanya Taliban membuang mayat-mayat pada malam hari, supaya bisa dilihat orang-orang pada pagi harinya. Biasanya ada catatan yang disematkan pada mayat-mayat itu: “Inilah yang terjadi pada mata-mata tentara”, atau “Jangan sentuh mayat ini hingga pukul 11 pagi, atau kau korban berikutnya.” Korban-korban eksekusi Taliban beraneka ragam, ada yang tubuhnya penuh dengan lubang peluru, kepala yang ditembak, dipenggal kepalanya, dan digantung di alun-alun kota. Setiap hari adalah hari terburuk: Setiap momen adalah yang terburuk. Berita buruk muncul di mana-mana: tempat tinggal orang ini dibom, sekolah ini diledakkan, pencambukan di depan umum. Kisah-kisah itu tak ada habisnya dan mencengangkan. Seorang guru di Matta dibunuh ketika menolak untuk menarik shalwar-nya hingga ke atas pergelangan kakinya seperti cara Taliban mengenakan shalwar mereka. Dia mengatakan kepada Taliban, itu tidak diwajibkan di mana pun di dalam Islam. Mereka menggantung lelaki itu, dan membunuh ayahnya. Shalwar adalah pakaian tradisional Pakistan berupa tunik longgar dan celana panjang, dikenakan oleh kaum laki-laki dan perempuan. Beberapa guru di Sekolah Khushal pun minta berhenti mengajar karena takut dengan ancaman Taliban bagi siapa saja guru yang masih mengajar murid-murid perempuan. Di masa-masa kelam seperti itulah, Malala yang saat itu masih berusia 12 tahun,  dipercaya oleh BBC menulis kesaksian dan curahan hati seorang anak sekolah perempuan mengenai kehidupan di bawah Taliban, di laman mereka yang berbahasa Urdu. Melalui koresponden BBC di Peshawar, catatan harian Malala itu dimuat setiap hari di laman BBC berbahasa Urdu itu. Tentu saja nama asli Malala tidak dicantumkan, mereka menggunakan nama samaran Gul Makai. Catatan harian “Gul Makai” itu menarik perhatian banyak orang di Swat, termasuk teman-teman dan guru-guru sekolahnya, mereka tidak tahu kalau yang menulisnya adalah Malala. Kesengsaran penduduk Swat bertambah, ketika pasukan pemerintah Pakistan masuk ke wilayah itu untuk melancarkan aksi militernya, berperang melawan Taliban. Sebagian besar penduduknya pun mengungsi, termasuk keluarga Malala. Salah satu kota tempat keluarga Malala mengungsi adalah Abbttabad, yang di kemudian hari diketahui sebagai tempat persembunyian Osama Bin Laden, ketika pasukan khusus Amerika Serikat, Navy SEAL melakukan penyerbuan dan membunuhnya. Dalam perang melawan Taliban itu, ribuan orang ditangkap tentara pemerintah, termasuk anak-anak laki-laki usia delapan tahun, yang dicuci otak untuk dilatih dalam misi-misi pengeboman bunuh diri. Tentara mengirim mereka ke kamp khusus para pelaku jihad untuk menghapuskan pikiran-pikiran radikal mereka. Swat menjadi ajang pertempuran antara militan Taliban dengan pasukan pemerintah Pakistan. Tentara Pakistan berhasil mengusir Taliban dari Swat, tetapi beberapa bulan kemudian, mereka kembali lagi. Ancaman pembunuhan pun diterima Ziauddin beberapakali, tetapi dia bersikeras untuk tetap tinggal di Swat. Sampai kemudian bukan dia yang ditembak Taliban, tetapi Malala. Selain Malala, sebenarnya ada juga dua teman perempuannya yang duduk di dekatnya tertembak, tetapi dengan mujizat Tuhan, tidak ada satu pun dari mereka yang tewas. “I Am Malala” Meskipun dokter-dokter di Rumah Sakit Birmingham, Inggris itu sudah melakukan operasi terhadap Malala secara maksimal dan sukses, tetapi sampai kini Malala tidak bisa mengedipkan mata sepenuhnya, dan mata kirinya sering menutup ketika dia sedang berbicara.

Apa yang dilakukan Taliban terhadap Malala untuk membunuhnya demi menghentikan perjuangannya terhadap hak pendidikan anak-anak perempuan di Swat, justru berbalik membuat perjuangan dan kampanye Malala terhadap hak anak-anak perempuan – juga anak-anak laki-laki untuk sekolah mendunia dengan hebat. Utusan khusus PBB bidang pendidikan dan juga mantan PM Inggris Gordon Brown, meluncurkan petisi berslogan, “I Am Malala”, dan menuntut agar tidak ada anak yang dilarang sekolah pada 2015. Puncaknya, pada Jumat, 10 Oktober 2014, Malala memperoleh hadiah Nobel bidang Perdamaian bersama dengan Kailash Satyarthi dari India. Malala adalah penerima Nobel termuda dalam sejarah untuk semua kategori. Sejak usia 12 tahun, Malala  sudah dengan luar biasa gigihnya memperjuangkan hak anak perempuan untuk sekolah, meskipun itu sama dengan menantang Taliban. Penembakan Taliban kepadanya, yang nyaris merengut jiwanya, sedikitipun tidak membuat Malala mundur. Sebaliknya, perjuangannya untuk hak pendidikan/sekolah anak-anak justru semakin berlipat ganda dan mendunia. “ … bahkan, kalaupun mereka datang untuk membunuhku, aku akan mengatakan bahwa apa yang mereka lakukan ini salah. Pendidikan adalah hak dasar kami.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here