Wisma Gending 43 dari masa ke masa

414
views

Wisma Gending 43 di Sumedang, kini dikenal sebagai tempat resepsi pernikahan. Tiga kali mengalami renovasi. Wisma Gending dijadikan penelusuran fakta sejarah, dilindungi oleh undang-undang cagar budaya. Mungkin banyak yang bertanya bagaimana sejarah awal dari tempat ini? Bagaimana perkembangannya dari masa ke masa? Hingga berbagai hal menarik terkait dengan Wisma Gending 43?

Tidak jauh dari pusat Alun-Alun Sumedang, kami berjalan menelusuri Jalan Gudang Kopi. Di depan pagar besi tinggi, kolam bulat membagi jalan menjadi dua  menuju rumah bergaya Eropa, di atap bangunanya tertulis ‘Wisma Gending 43’. Taukah jika nama pertamanya Villa Nani? Siapa Nani dan mengapa bangunan ini bergaya klasik?
Seperti  candu, adiktif bagi kami menghabiskan waktu libur untuk menelusuri sudut Sumedang. Sama seperti kalian yang senang berjalan-jalan berdua. Saya dan Akka juga senang jalan-jalan untuk mencari tahu banyak hal tentang Sumedang, termasuk Wisma Gending 43 yang menarik untuk dicari tahu.
Ibu Jamillah mengantarkan kami memasuki bagian depan gedung. Gagang pintu baru saja dibukanya, kami diantarkan ke ruang pertama. Kaca-kaca besar dengan tralis besi hijau hampir memenuhi kedua sisinya. Dua pintu yang dipisahkan dinding mengantarkan kami ke ruang selanjutnya.
Memasuki ruang kedua, kami menemukan foto yang menempel di dinding. Foto keluarga yang menjadi pemilik terakhir Wisma Gending 43. Jika ditelusuri sejarahnya, Wisma Gending didirikan oleh Bupati Bandung R.A.A.Martanegara pada tahun 1889. Sebelum akhirnya  dimiliki oleh keluarga Ir H Udin Abimanyu.
Akka lebih dulu memasuki ruang ketiga, ruangan tengah ini memiliki dua lukisan dinding yang menarik. Salah satunya adalah lukisan keluarga menggenakan kostum Belanda. Di ruangan ini pula menjadi penghubung ke kamar –kamar, tempat istirahat. Ada satu pintu yang terkunci, kami mengintip ke dalamnya, sebuah ruangan yang menyimpan perabotan rumah tangga. “Sengaja di kunci agar tamu tidak menganggu perabotan di rumah ini, maklumlah ya kalau gedung ini disewakan perlakuan dari masing-masing tamu kan beda. Sayang kalau rusak, barangnya antik-antik.” Jelas Ibu Jamillah saat kami sedang berusaha mengintip ruangan terakhir di dalam gedung ini.

Setelah puas berkeliling. Akhirnya kami memutuskan untuk berkumpul dan bercerita di bawah pohon jambu air. Mang Ujang adalah suami dari Ibu Jamillah yang bertugas menjaga keamanan dan kebersihan Wisma Gending 43. “Mang Ujang mah hanya menjalani amanat keluarga bapak, beliau bilang silahkan mau dipakai untuk acara atau penginapan keluarga hanya saja jangan disewakan perkamar. Sieun dijadikan tempat nu teu pararuguh.” Katanya sambil menghisap rokok.
Belum puas kami dengan jawaban dari Mang Ujang dan Ibu Jamillah, akhirnya beberapa hari kemudian kami datang kembali untuk bertemu dengan Om Buyung. Beliau yang membantu kami mendapatkan arsip tentang Wisma Gending 43. Sekaligus menjawab rasa penasaran kami dengan nama Villa Nani.

Pertama kali mendengar nama Nani, tebakan saya adalah villa ini didirikan oleh kolonial Belanda yang juga pernah berada di Sumedang. Jauh  dari tebakan saya, justru pendiri dan pemilik pertama mengambil nama Nani sebagai rasa cinta terhadap anaknya.
Villa Nani adalah sebutan Wisma Gending pada awal berdiri, pendiri saat itu yakni Bupati Bandung R.A.A.Martanegara menikah dengan Nyai Raden Rajaningrat puteri dari Pangeran Sugih. Mereka memiliki anak yang bernama Rd.Nani Tedjaningrat. Apabila dilihat dari sejarah, R.A.A.Martanegara juga masih berkaitan dengan keluarga Bupati Sumedang yakni cicit dari Pangeran Kornel.

Berganti kepemilikan, maka gedung yang berada di tanah yang luas kurang lebih satu hektar ini menjadi nama Wisma Gending 43. Wisma diartikan gedung tempat tinggal, Gending diambil dari lingkungan tempat ini berdiri. Sedangkan 43 merupakan alamat nomor bangunan. Meskipun kali ini sudah tidak relevan karena banyaknya pemukiman di sekitarnya.
Menariknya Wisma Gending yang kini terlihat seperti sebuah bangunan bergaya klasik. Memiliki pengaruh besar dari perkembangan arsitektur dan desain interior di dunia, Art Deco. Gaya Art Deco yang berkembang pesat di abad ke-20 dianggap sebagai simbol modernitas saat itu. Bahkan pada eranya dianggap sebagai gaya yang fungsional dan anggun.
Tak heran jika sekilas Wisma Gending 43 menyingkap nostalgia akulturasi di Indonesia. Art Deco paling banyak ditemukan di Bandung, bahkan mendapat predikat yang terbanyak di Asia Tenggara. Bangga, menjadi warga Sumedang yang memiliki peninggalan sejarah yang kini keberadaanya dilindungi oleh UU Cagar Budaya No.11 Tahun 2010. 

Sumedang keren kan? Ya iyalah makanya Engeuh!!
Berikut ini merupakan simpanan foto yang menjadi arsip pribadi. Foto berikut merupakan gambaran bangunan Wisma Gending sebelum dilakukan perombakan.

Alamat:

Jl. Pangeran Santri No.43, Kotakulon, Sumedang Sel., Kabupaten Sumedang, Jawa Barat 45311

1 COMMENT

  1. untuk tambahan informasi, sampai tahun 2004 wisma gending, tepat nya rumah yg disamping nya masih menjadi tempat tinggal perempuan tua kelahiran belanda beserta keluarga nya.
    dan perempuan di foto tersebut adalah ibu saya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here