Begitu penggalan dari koran Sipataoenan yang menjelaskan, bahwa sudah dari sejak dulu di Sunda ketika bulan Ramadan memainkan tradisional bedil lodong. Wah makin tahu Indonesia yah. Kegiatan yang dilakukan untuk sambil menunggu berbuka puasa hanya dapat dilakukan di pedesaan, karena suaranya yang menggelegar tidak memungkinkan dilakukan di daerah perkotaan, terutama yang padat penduduk. Biasanya, bedil lodong akan dinyalakan di tempat-tempat terbuka, seperti lapangan, sawah kering, atau ladang. Inget yah, harus tahu tempat juga. Lodong sendiri tebuat dari pohon bambu yang dilubangi untuk tempat karbit sebagai bahan bakarnya. Setelah itu sulut lubang tersebut dan siap-siap menutup telinga, sebab suaranya sangat keras menyerupai senapan.
Akan tetapi, ada juga sekarang yang memakai spirtus, bedil lodongnya juga tidak dari bambu. Dengan menggunakan alat seadanya; paralon, kaleng susu, botol minum, korek dan magnet pemantik. Sekali lagi Mimin ingatkan yah, keseruan permainan tradisional bedil lodong ini, jika anak-anak bermain, harus tetap diawasi orang tua yah wargi Sumedang.
Belum ada komentar.