Bioskop Pasifik dan Bentrokan Pada Masa Hindia Belanda

Jika wargi Sumedang tahu, dulu ada beberapa gedung bioskop di Sumedang pada masanya loh! Seperti Diana, Sindangraja, Kische dan Bioskop Pasifik. Apalagi gedung pasifik yang sekarang beralih fungsi menjadi outlet pakaian ternama, tentunya wargi Sumedang tahu dong, dulunya gedung tersebut adalah gedung bioskop? Pasti sudah tahu.

Siapa dulu yang pernah sempat menonton film di Bioskop Pasifik?

Kali ini, mimin akan mengulas tentang gedung Bioskop Pasifik. Nah gedung tersebut, merupakan salah satu bangunan tua yang berada di wilayah Sumedang. Lokasinya berada di pinggir jalan Prabu Geusan Ulun dan berdekatan dengan jembatan Cipeles. Tepatnya di sebelah selatan aliran Sungai Cipeles yang membelah kota Sumedang. 

Berdasarkan catatan sejarah, bangunan gedung Bioskop Pasifik yang didirikan oleh seorang saudagar berkebangsaan Belanda yaitu Meneer Boesee pada tahun 1920-an. Gedung Bioskop Pasifik kemudian diresmikan oleh Bupati Sumedang kala itu, Dalem Soeria Soemantri. Dengan adanya gedung Bioskop Pasifik tersebut, menjadikannya sebagai sarana hiburan rakyat yang paling modern saat itu di wilayah Sumedang.

Gedung tersebut pernah beralih fungsi pada tahun 1942, ketika penjajah Jepang datang. Beralih fungsi menjadi tempat pertunjukan kesenian tradisional. Kesenian tradisional Sunda seperti Wayang Golek, Sandiwara, Ketuk Tilu dipentaskan di gedung ini. Pada waktu itu, gedung tersebut diganti namanya menjadi Gedung Sakura.

Setelah Indonesia merdeka, gedung tersebut dikembalikan fungsinya sebagai saranan pertunjukan film lagi oleh pemerintah. Film yang diputar masih sama jenisnya dengan jenis film sebelumnya yaitu film bisu. Perbedaannya adalah sebelum pemutaran film, biasanya ditampilkan dulu musik tradisional Dogdog. Untuk nama gedungnya diubah dari Gedung Sakura ketika zaman penjajahan Jepang menjadi Bioskop Tjahaja. Dan namanya berubah kembali menjadi Bioskop Kutamaya, lalu berganti lagi menjadi Bioskop Pasifik.

Kembali lagi, kepada masa hangat-hangatnya gedung Bioskop Pasifik beroperasi, seperti disampaikan beberapa sumber, ada peristiwa sejarah menyangkut gedung Bioskop Pasifik tersebut. Gedung Bioskop Pasifik menjadi saksi bisu bentrokan yang pernah terjadi antara Sarekat Rakyat (SR) yang berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) dan Sarekat Hejo bentukan Pemerintah Hindia Belanda di Tahun 1925.

Hadirnya bentrokan yang terjadi di Bioskop Pasifik, pada saat itu anggota Sarekat Rakyat ingin menonton film dengan potongan harga karcis. Sebelumnya, pengurus bioskop memberikan potongan harga tiket kepada anggota Sarekat Hejo. Pengelola bioskop tentu saja menolak permintaan mereka.

Dari penolakan tersebut memicu amarah para anggota Sarekat Rakyat. Mereka melakukan penyerangan kepada pengurus dan penjaga bioskop. Pengelola bioskop berusaha melawan sambil berteriak minta pertolongan. Teriakan itu didengar orang-orang di sekitar bioskop dan Pasar Sumedang, yang letaknya tidak jauh dari Bioskop Pasifik. Perkelahian massal pun, akhirnya terjadi antara Sarekat Rakyat dengan massa yang kebanyakan anggota Sarekat Hejo.

Menurut sumber lainnya, sebagaimana yang diberitakan dalam surat kabar Soerapati edisi 8 Agustus1925:
"Doeloer-doeloer oerang noe dina boelan Januari geus dihina djeung digelokeun di Soemedang berhoeboeng djeung papaseaan dina oeroesan kartjis bioskop, dina tanggal 13 boelan Agustus 1925 bakal dipariksa ku Landraad. Kabehna aja 163 djalma. Koemaha poetoesanana oerang toenggoe bae!" 

Sementara itu, dalam De Sumatra Post, Medan edisi Kamis 20 Agustus 1925 diungkapkan bahwa pada Kamis, 13 Juli 1925, Pengadilan dengan Hakimnya Mr Block, memulai penanganan kasus para terdakwa kasus kerusuhan yang terjadi pada akhir Januari 1925 di Sumedang.

Dari kejadian tersebut, Sarekat Rakyat oleh pemerintah Hindia Belanda dimasukan ke dalam daftar perhimpunan yang harus diawasi gerak geriknya. Sementara Sarekat Hijau diizinkan tetap berkembang karena dianggap dapat bersikap kooperatif terhadap pemerintah.

Sekitar tahun 1977, seorang pengusaha bioskop daerah, H. Didi Kusnadi mengambil alih pengelolaan gedung bioskop tersebut. Nama gedungnya dikembalikan ke nama asal yaitu Bioskop Pasifik. Bioskop Pasifik beroperasi memutar film-film yang sedang ngetren pada masa itu. 

Dengan bermunculannya sinepleks dan peredaran VCD, maka gedung tersebut hanya bertahan sampai dekade 1990-an. Berkurangnya penonton film di bioskop pada saat itu semakin berkurang. Pada akhirnya, Bioskop Pasifik dikembalikan ke Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Nah pada tahun 2000-an, Gedung Bioskop Pacific disewa oleh jaringan ritel Duta Pasar Raya. Kemudian bangunannya dirombak dijadikan toko pakaian dan buku. Gerbang yang terbuat dari besi dibongkar. Begitu juga dengan loket tempat penjualaan karcis dibongkar. Lantai ruangan yang menurun juga dijadikan datar.

Setelah selesai periode penyewaannya oleh Duta Pasar Raya, pada tahun 2011 bangunan Bioskop Pasifik diubah kembali menjadi tempat karaoke. Perubahannya bukan hanya fungsi, namun ruangan-ruangan di dalamnya juga berubah. Ruangan yang dijadikan tempat karaoke dipusatkan di lantai dua sementara lantai satu mementaskan berbagai kesenian Sunda.

Namanya pun berubah menjadi Pasifik Hariring (Paha). Ruangan karaokenya terbagi ke dalam tiga kelas: Kelas 3, Kelas 2 dan Kelas VIP. Ada patung perempuan menari pada waktu itu. 

Komentar

wave
  • John Doe

    Cole

    Nov 02, 2022 18:57

    Good way of tellіng, and pleasant piece of wгiting to take data concerning my presentation subject matter, which i am going tо present in college.

  • John Doe

    Kasey

    Nov 09, 2022 22:05

    This is mү first time pay a visit at here and i am actually impressed t᧐ read everthing at alone place.

Tinggalkan Komentar

wave

Cari Artikel