Italy of the East (2): Sebuah Ungkapan Takjub dari Charles Walter Kinloch Melihat Indahnya Sumedang

Jika saja keindahaan alam yang luar biasa ini dijadikan judul suatu ungkapan, maka bolehlah kita mengatakan tempat yang mempesona ini seperti apa yang dikatakan penyair tentang Naples: “Un pezzo di cielo caduto in terra”

Sebuah ungkapan dari pelancong Inggris yakni, Charles Walter Kinloch saat mengagumi keindahan Sumedang tempo dulu, ketika ia tiba di Sumedang. Dalam bukunya Rambles in Java and the Straits in, 1852, 1853.

Un pezzo di cielo caduto in terra artinya sepotong surga yang jatuh ke bumi. Ia hanya teringat pada sebait puisi tersebut yang pernah diutarakan seorang penyair saat hendak memuji keindahan Naples, salah satu kota di Italia. Begitu sangat sulit bagi Kinloch memilih kalimat yang tepat untuk mengungkapkan keindahan tempat yang baru saja ditemuinya itu, yakni Sumedang. 

Masih melanjutkan Italy of the East atau dalam bahasa Belanda, Italie het van Oosten. Jika tulisan yang pertama membahas dalam buku Het Paradijs van Java, dalam sebuah kata pengantarnya yang ditulis oleh Johan Koning, hingga populernya julukan Italy of the East.

Kesan keindahan Italia sebagai sandingan atas alam Sumedang waktu itu tentu tidak muncul begitu saja loh wargi Sumedang. Kisah di balik tercetuskan julukan Italy of the East, wargi bisa menelusurinya lewat catatan perjalanan Charles Walter Kinloch atau Bengal Civillian dalam bukunya Rambles in Java and the Straits in.

Buku tersebut menceritakan keberangkatan Penulis dari Kalkuta menuju ke Penang, Singapura, dan mampir juga ke Jawa tahun 1852. Memang Kinloch menulis buku catatan perjalanan ini bukan untuk tujuan publikasi, namun sekedar untuk kesenangan pribadi mengisi waktu luang di sela-sela waktu melancongnya.

Singkat cerita, tibalah Kinloch di Batavia pada awal Juni 1852. Penjelajahan Kinloch mengunjungi tempat-tempat indah di Pulau Jawa berlangsung selama 35 hari. Ia memulai perjalanannya dari Batavia (9 Juni 1852) dan berakhir di Semarang (14 Juli 1852).

Kinloch menyusuri Jawa dengan mengendarai kereta kuda yang ditarik oleh empat kuda Hindia berkecepatan 10 mil/jam. Jalur yang ditempuhnya menyusuri jalan raya pos Daendels (De Grote Postweg) dari Batavia, Buitenzorg (Bogor), Cianjur, Bandung, Sumedang, Cirebon, sampai Tegal. 

Dari sana jalur membelah ke arah selatan melalui Bumiayu, Banyumas, Kebumen, Purwarejo, Magelang, dan kembali ke lajur utara hingga Semarang. Dari Semarang Kinloch kembali ke Batavia menggunakan kapal.

Kinloch tiba di Sumedang menjelang tengah hari pada tanggal 1 Juli 1852. Sesampainya di Sumedang, ia seolah tersihir oleh keindahan panorama alamnya yang begitu indah sekali.

Kunjungannya di Sumedang terbilang singkat, hanya sehari-semalam, akan tetapi, Sumedang telah berhasil memberinya kesan yang begitu mendalam. Sumedang adalah tempat yang menyenangkan, yang menampilkan lanskap pedesaan yang indah. Bahkan ia mengaku tak pernah menyangka bisa menemukan tempat secantik ini di sepanjang hidupnya.

Maka dari situlah Kinloch pun memberikan sanjungan atas keindahan panorama alam Sumedang yang berhasil membikinnya terpana dengan menulis seperti yang di paragaraf pertama yah wargi Sumedang.

Komentar

wave
  • John Doe

    Alonzo

    Jun 18, 2023 19:10

    Admiring the timе and energy yօu pսt into үour ԝebsite and in dеpth informatiоn you offer. It's awesome to come aсross a blog every once in а while that isn't the same outdɑted rehashed material. Wonderful read! I've saved your site and I'm includi

Tinggalkan Komentar

wave

Cari Artikel