Kesenian Tarawangsa (2): Nama Tarawangsa

Melanjutkan tentang kesenian tarawangsa, pasti akan banyak dibahas, makanya dari kita satu persatu akan kita bahas. Sumedang dengan kaya akan budaya leluhurnya yang mengandung makna-makna filosofis yang berkaitan erat dengan kehidupan kita. Ya, salah satunya di Rancakalong dengan kesenian tarawangsa. Mungkin beberapa orang Sumedang juga belum ada yang mengenal makna dari sebuah nama tarawangsa tersebut. 

Menurut harfiah,Tarawangsa berasal dari tiga kata yakni Ta, Ra, dan Wangsa. Ta sendiri dalam bahasa Sunda memiliki arti pergerakan, lalu ‘Ra’ memiliki definisi berarti api yang besar, namun dalam bahasa mesir Ra sendiri berarti matahari. Nah, kemudian yang ketiga ‘Wangsa’ memiliki persamaan Bangsa. Untuk itu arti ta-ra-wangsa sendiri merupakan definisi dari kehidupan bangsa matahari, dalam kegiatan adat Jawa Barat, tarawangsa sendiri merupakan wujud dari kegiatan kesenian dalam rangka adanya kegiatan panen terhadap  tanaman padi, tanaman yang sangat membutuhkan sinar matahari sebagai wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Kesenian tarawangsa ini, diperkirakan sudah ada sebelum abad ke-14 masehi. Hal ini di buktikan dalam naskah sunda Sewaka Dharma, yang diperkirakan  berangka tahun 1021 saka atau sama dengan 1099 masehi. Pada naskah ini, Tarawangsa  disebutkan pada halaman ke-44 dan halaman ke-45 sebagai berikut:

Nu na[ng]gapan, sada canang, sada gangsa tumpang kembang, sada kumbang tarawangsa ngeui[k], sada titila[r]ri[ng] bumi, sada tatabeuhan jawa, sada gobeng direka cali[n]tu di an[n]jung, sada handaru kacapi la[ng]nga, sada keruk sagung.

Terjemah:

Terdengar bunyi-bunyian, suara canang, suara gamelan tumpang kembang, suara kumbang dan tarawangsa menyayat hati, suara peninggalan bumi, suara gamelan jawa, suara baling-baling di tingkah calintuh di danau, suara deru kacapi penuh khawatir, suara sedih semua.
Saleh Danasasmita. Sewaka Darma (kropak 408). Depdikbud. 1987.

Dalam kutipan tersebut tercantum dengan jelas bunyi tarawangsa. Kata Tarawangsa dalam literatur kuna dapat ditemukan juga dibeberapa naskah, dalam kitab Kidung Adiparwa dengan angka tahun 991 masehi tercatat nama instrument “trewasa” dan dalam kitab Malat disebut “trawasa” dan dalam kitab Bagus Turunan dengan angka tahun 862 masehi disebut “trawangsah”. Ketiga istilah tersebut juga muncul dalam tiga kidung bali yaitu Cupak, Adiparwa dan Malat. dengan demikian, dapat diduga  bahwa instrument tarawangsa terdapat juga di daerah itu pada masa-masa abad tertentu. 
Jaap kunst. Hindu-Javanese Musical Instruments.1968.

Sebagai kearifan lokal yang tak lepas dari pengaruh masa lalu, maka Seni Tarawangsa memiliki ciri khas sebagai seni tradisi yang sakral. Hal tersebut dapat dilihat dari sarana pertunjukannya yang menjadi syarat ritus atau sasajen.
Nah, untuk membahas tentang apa saja dan lagu apa saja sih yang ada di kesenian tarawangsa. Simak lanjutannya ya palawargi.

- Sponsored Ad - post-title
Katen Doe
Penulis

INIMAHSUMEDANG

-

Komentar

wave

Belum ada komentar.

Tinggalkan Komentar

wave

Cari Artikel