Kisah Mata Air 'Kahuripan Cileutik' di Gunung Gadung

Air yang begitu jernih mengalir dari balik tebing pepohonan bambu di kawasan Gunung Gadung, Desa Sukajaya, Kabupaten Sumedang. Mata air yang berada di pinggiran jalan ini ternyata memiliki kisah sejarah yang menarik untuk dibahas nih wargi Sumedang.

Mungkin kalau hanya melintas sekilas hanya terlihat penanda biasa, tetapi jika wargi Sumedang lihat, dari penanda tersebut tertulis 'KAHURIPAN CILEUTIK PANGEMUT NGEMUT KA PANGERAN SOERIA ATMADJA  , BUPATI SUMEDANG TAHUN 1882-1919, JASA MANTENNA IEU CAI TIASA MANFAAT KANGGO BALAREA (Pengingat untuk Pangeran Suria Atmdja, Bupati Sumedang 1882-1919, Jasa beliau ini air bisa bermanfaat buat semuanya).

Tulisan Dari Penanda Mata Air Cileutik. Foto: Kegga



Mata air tersebut tak pernah berhenti, dalan kondisi kemarau pun mata air itu tak pernah kering. Maka tidak heran mata air itu sangat bermanfaat tidak hanya bagi warga sekitar, juga bagi para pengendara yang melintas di kawasan tersebut. Mata air itu mengalir tidak henti-hentinya dari dua lubang yang dipasangi sepasang pipa pelastik.

Mata air itu ditemukan oleh Pangeran Aria Soeria Atmadja atau yang dikenal juga dengan sebutan Pangeran Mekah saat pembuatan jalan di kawasan Gunung Puyuh dan sekitarnya. Pangeran Mekah sendiri merupakan Bupati Sumedang periode 1882 sampai 1919.

Menurut Cerita Turun temurun di masyarakat Mata Air tersebut ditemukan oleh Kanjeng Pangeran Aria Soeria Atmadja atau Pangeran Mekah Bupati Sumedang tahun 1882 - 1919, dalam satu masa Pangeran Mekah serta didampingi para priyayi kabupaten memeriksa dan mengontrol pembuatan jalan yang dibuat oleh rakyat Gunung Puyuh dan sekitarnya, jalan yang dibuat dimulai dari Regol, Gunung Puyuh terus ke Nanggorak.

Pada saat itu musim kemarau dan cuaca panas, saat Pangeran Mekah dengan rombongan tiba di suatu daerah yang sedang membuat jalan, kelihatan oleh pangeran, rakyat yang bekerja sedang kelelahan dan tidak bersemangat kerja , lalu oleh Pangeran Mekah ditanya; "Kenapa bekerja seperti tidak bergembira dan terlihat tidak bersemangat serta terlihat keletihan?" dijawab oleh pekerja semuanya: " Duh Kanjeng Pangeran, bukan kami tidak mau bekerja sungguh-sungguh tetapi kami kelelahan dan  kehausan, mencari air kemana-mana tidak didapat, silakan kanjeng lihat sendiri, sungai, selokan dan sawah sawah pada kering, dan ke pemukiman sangat jauh,"

Pangeran Mekah melihat kesulitan yang dialami oleh rakyatnya bahwa rakyat yang bekerja betul betul membutuhkan air untuk melepas haus dahaga yg luar biasa .

Pangeran Mekah berkata "Kalian ikuti Ama ( saya)"  saat berjalan sampailah ke sebuah tebing, Pangeran Mekah menghentikan langkahnya dan menunjukan dengan tongkatnya ke arah tebing, lalu berkata "Nah, di sini yang ada airnya" yang turut serta merasa heran karena merasa tidak melihat ada air dan berucap "Maaf Pangeran, kami tidak melihat ada air setetes pun" lalu Pangeran Mekah menancapkan tongkat nya ke tebing tersebut dan saat ditarik kembali tongkatnya keluarlah air yang begitu jernih dari tebing  seukuran lubang tongkat (lubang nya leutik / kecil seukuran mata tongkat) air terlihat sangat bersih, lalu Kanjeng Pangeran berucap "Silakan kalian minum sepuas-puasnya".

Rakyat yang melihat kejadian tersebut mengucapkan sukur dan memberi sujud sebagai bentuk rasa hormat kepada Pangeran Mekah, maka rakyat langsung minum air tersebut untuk melepas dahaga dengan penuh suka cita. Saat meminum air di tebing tersebut rakyat merasa ada keistimewaan dalam air itu, terasa lebih nikmat dan segar bugar yang tiada bandingannya, Mata Air tersebut sampai saat ini dinamakan AIR CILEUTIK .

Saat kemarau air Cileutik tidak pernah kering meski debet air berkurang, beredar cerita banyak masyarakat mempercayai khasiat air Cileutik ini untuk dimanfaatkan pengobatan dan mandi serta banyak juga diambil air nya untuk dibawa pulang untuk obat. (gga)

- Sponsored Ad - post-title
Katen Doe
Penulis

INIMAHSUMEDANG

-

Komentar

wave
  • John Doe

    Mahdi

    Jan 22, 2022 07:18

    Hatur nuhun informasina

Tinggalkan Komentar

wave

Cari Artikel