Mengenal Seni Buhun Ajeng dari Desa Cipelang Ujungjaya

Kesenian yang satu ini merupakan sebuah kesenian tradisional turun temurun di Desa Cipelang Kecamatan Ujung Jaya, namanya seni Ajeng. Seni Ajeng adalah salah satu kesenian asli Kabupaten Sumedang,  "Ajeng" adalah nama sebuah kesenian dan juga nama seperangkat alat musik. Seperangkat alat musik Ajeng mirip dengan perangkat alat musik gamelan, yang diantaranya terdiri dari Koromong, Kempul (gong kecil), dan Goong (gong). 

Tentunya wargi Sumedang sudah pada tahu dong keberadaan kesenian buhun tersebut? Nah, untuk wargi Sumedang yang belum tahu nih mengenai Seni Buhun Ajeng ini, akan mimin bahas yah dari berbagai sumber, agar wargi Sumedang makin tahu Indonesia dengan ragam keseniannya, khususnya Sumedang.

Alat musik ini dulunya diketemukan dalam sebuah penggalian yang dilakukan oleh Eyang Jagakerti dalam pembuatan saluran air, ketika sedang menggali tanah, tiba-tiba pada kedalaman tertentu Eyang Jagakerti menemukan seperangkat alat musik, alat-alat musik tersebut terkubur dan terlilit ditengah akar-akar tanaman yang sangat banyak, sehingga dulunya alat musik ini dinamai Jangkar Alam, karena ditemukan di tengah lilitan-lilitan akar. 

Menurut sumber dari Aan pupuhu Sanggar Seni Layung Sari, awalnya alat musik Seni Ajeng ditemukan oleh Eyang Jagakerti, Jagakerti adalah anak bungsu dari Sultan Jaya Ningrat. Jaya Ningrat mengutus keempat anaknya untuk membuat saluran air di Tegal Burangrang, Gunung Garunggang, yang terletak di daerah Ranji Kabupaten Majalengka sekarang. Namun, hanya Jagakerti yang menyanggupi permintaan ayahnya tersebut. 

Dalam melaksanakan tugasnya, Jagakerti dibantu oleh seseorang bernama Embah Kadar dan juga dibantu oleh masyarakat setempat. Ketika penggalian sedang dilakukan, pada kedalaman tertentu ditemukan sebuah benda berupa alat musik Kempul (gong kecil), setelah itu ditemukan 28 benda lain berupa Koromong, dan yang terakhir ditemukan Gong besar pada saat mengakhiri penggalian saluran air. 

Sebelum diambil, semua benda tersebut berada dalam lilitan-lilitan akar yang menyerupai jangkar, sehingga awalnya alat musik ini dinamai Jangkar Alam. Setelah barang-barang temuan tersebut diangkat dan dibersihkan, lalu coba dimainkan sebagai alat musik, ternyata masih berfungsi dengan baik dan akhirnya menjadi seni tradisional.

Bersama Embah Kadar, Jagakerti membawa serta Jangkar Alam untuk pindah ke daerah Belendung. Hingga Jagakerti dan Embah Kadar meninggal dunia, kesenian Jangkar Alam masih selalu dimainkan sebagai salah satu wasiat Jagakerti untuk melestarikan kesenian tersebut. 

Alat musik Jangkar Alam selanjutnya diwariskan secara turun-temurun pada keturunannya, sebagai sebuah pusaka (benda bersejarah yang tidak ternilai harganya). Di kemudian hari, Jagakerti sering dipanggil dengan Embah Buyut Jagakerti untuk penghormatan, sedangkan Embah Kadar dipanggil dengan Embah Buyut Kadar. 

Makam Embah Buyut Jagakerti dan makam Embah Buyut Kadar berada di makam Desa Cipelang, tidak begitu jauh dari kantor Desa Cipelang. Dikemudian hari, seni tradisional Jangkar Alam sering dipentaskna dalam acara-acara pernikahan dengan adat sunda, karena hal tersebutlah lambat laun nama Jangkar Alam berubah menjadi Ajeng, Ajeng berasal dari kata pangajeng-ajeng.

Dalam perkembanganya sekarang ini, sebagai benda bersejarah warisan leluhur, Seni Ajeng seringkali dimainkan dalam acara-acara ritual seperti hajat bumi, ataupun acara seremonial lainnya seperti peresmian-peresmian. hal tersebut dilakukan sebagai pelaksanaan wasiat, juga penghargaan kepada para pewaris sebelumnya (karuhun). Karena runutan sejarah tersebutlah, sekarang Desa Cipelang Sumedang menjadi desa pewaris alat musik tradisional Ajeng dan Seni Ajengnya, hal tersebut diperkuat dengan keberadaan Makam keramat Embah Buyut.


Sumber:
Jerryyanuar
partTV

Komentar

wave

Belum ada komentar.

Tinggalkan Komentar

wave

Cari Artikel