Perihal Prasasti yang Berada di Jalan Cadas Pangeran

Pada prasati tertulis, “Onder Leiding van Raden Demang Mangkoepradja en Onder Toezicht van Pangeran Koesoemadinata Aangelegt 1811 Doorgekapt 26 November tot Maart 1812 (Di bawah Pimpinan Raden Demang Mangkoepradja dan di bawah Penelitian Pangeran Koesoemadinata, dibuat pada tahun 1811, dibobok dari tanggal 26 November sampai 12 Maret 1812).”

Jika wargi melintas Jalan Cadas Pangeran ke atas, maka akan menemukan prasasti yang menempel pada tebing di pinggir jalan. Kali ini, mimin tidak akan membahas mengenai sejarah Jalan Cadas Pangeran, apalagi tentang ular kuning yang sempat ramai. Hehe.

Berkaitan dengan sebuah prasasti yang berada di jalan Cadas Pangeran tersebut, ada kaitan erat dengan sebuah patung yang sedang berjabat tangan yang disebutkan bahwa itu Kusumadinata IX atau Pangeran Kornel dan Deandels oleh masyarakat luas. Akan tetapi, benarkah pertemuan tersebut?

Namun terlepas dari benar atau tidaknya peristiwa Cadas Pangeran itu, ada satu hal yang patut dicontoh. Semangat perlawanan rakyat Sumedang dan keberanian Pangeran Kornel sebagai representasi pemimpin menentang kebijakan kolonial sebagaimana tercermin dalam kisah Cadas Pangeran seharusnya menjadi contoh bagi para pemimpin sekarang untuk lebih berpihak pada kepentingan rakyat banyak.

Menurut Prof. Djoko Marihandono, sejarawan pengajar Sastra Perancis Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, menelusuri data atau sumber historis terkait peristiwa pertemuan Daendels dan Kusumadinata IX di Ciherang. 

Penelusurannya meliputi koleksi Arsip Nasional RI dan arsip dari Centre d`accueil et de recherche des archieves nationales (CARAN) di Rue des Ecoles, Paris, Perancis, untuk penggarapan disertasi berjudul “Setralisme Kekuasaan Pemerintah Daendels di Jawa 1808-1811 : Penerapan Instruksi Napoleon Bonaparte”.

Djoko Marihandono melihat di salah satu bundel arsip Priangan, berisi korespondensi pengusaha bumi putera kepada pejabat Belanda, khususnya yang bertugas menjadi pengawas proyek Jalan Raya Pos, pada pertengahan tahun 1808 justru terlihat perbedaan sikap Kusumadinata IX terhadap pembangunan Jalan Raya Pos.

Bupati Sumedang yang disebut-sebut dalam arsip tidak menyatakan keberatan sama sekali, bahkan menawarkan bantuannya lebih lanjut kepada penguasa kolonial jika masih diperlukan. Tulis Marihandono dalam “Mendekonstruksi Mitos Pembangunan Jalan Raya Cadas Pangeran 1808 : Komparasi Sejarah dan Tradisi Lisan”.

Menurut tradisi administrasi kolonial setiap peristiwa, termasuk kedatangan seorang Gubernur Jenderal, pasti akan meninggalkan catatan dan laporan sangat panjang. Mulai laporan keberangkatannya, daerah mana saja kunjungannya, siapa saja tamunya atau orang dikunjungi, pasti akan tercatat lengkap dan tersimpan sebagai arsip. Anehnya, pertemuan Daendels-Kusumadinata IX tak terdokumentasi.

Selain arsip, menurut Marihandono, beberapa tulisan leksikografi tentang masa pemerintahan Daendels pun tak pernah mencuplik peristiwa tersebut. Sementara, sumber utama tentang pertemuan itu hanya ada pada prasasti di bawah patung Pangeran Kornel. 

Karena itu, Marihandono meragukan keterkaitan isi prasati dan peristiwa tersebut. Daendels, menurut keputusan Kaisar Napoleon Bonaparte, mengakhiri masa jabatan pada 16 Mei 1811. Dia berlayar dari pelabuhan Surabaya menggunakan kapal menuju Eropa pada 29 Juli 1811. Pada bulan September 1811, Sang Mareskalek diterima Napoleon di Paris.

“Dengan demikian periode, yang dimaksudkan dalam prasasti tersebut (tanggal 26 November 1811 sampai 12 Maret 1812) bukan masa pemerintah Daendels, melainkan Raffles,” ungkap Marihandono. Oleh karena itu, patut diduga bahwa yang datang serta mengawasi pembangunan jalan dan bersalaman dengan Pangeran Kornel bukanlah Herman Willem Daendels, karena Daendels sudah meninggalkan Hindia Belanda pada 29 Juli 1811

Tapi, pada masa Raffles pun tak pernah tercatat kunjungannya ke daerah Priangan. Peristiwa pertemuan dan jabat tangan Daendels-Kusumadinata IX justru laris manis di berbagai cerita maupun tutur lisan masyarakat.

Munculnya legenda Daendels-Kusumadinata IX, menurut Marihandono, menunjukan polarisasi politik semasa dan setelah pemerintahan Daendels. Tak hanya terjadi sebatas pada kalangan Eropa, tetapi juga melibatkan kaum bumi putera.

“Munculnya legenda itu menunjukkan beberapa kalangan pejabat Eropa berusaha menciptakan citra tentang Daendels di mata para elit penguasa dan masyarakat bumi putera,” tulis Marihandono. “Hal ini sengaja dimunculkan dan digunakan oleh orang-orang Eropa anti Daendels untuk menyatakan mega proyek Daendels tidak berhasil mengentaskan kondisi kehidupan rakyat.”

Kenyataanya, cerita heroik tersebut masih diperdebatkan. Sebagian mengamini. Lainnya tidak mempercayai, karena sumbernya berasal dari cerita yang dituturkan secara lisan turun temurun di kalangan petinggi dan rakyat Sumedang.

Komentar

wave
  • John Doe

    Joyce

    May 10, 2023 00:16

    Remarkable! Its really awesοme post, I have got much cⅼear idea about from this paragraph.

Tinggalkan Komentar

wave

Cari Artikel