Sekilas Tentang Masa Bupati Raden Aria Satjapati 1789-1791

Raden Aria Satjapati awalnya adalah Patih Sumedang yang lebih dikenal dengan sebagai Menak Sumedang. Rakyat Sumedang bersyukur atas berakhirnya pemerintahan Bupati Raden Adipati Tanubaya II yang terkenal kejam, dan bukan pula turunan Sumedang. 

Dengan diangkatnya Raden Aria Satjapati, warga juga bersukacita karena diperintah kembali oleh bupati yang berasal dari putera daerah Sumedang. Ia dikenal rajin dan cukup berwibawa. 

Raden Aria Satjapati juga sangat dekat dengan rakyat dan kemudian ia mendapat gelar adipati. Namun bagi Kompeni, Raden Aria Satjapati dianggap kurang cakap menjalankan tugas dan kewajibannya.

Kompeni sangat kecewa karena ternyata hasil perkebunan kopi dari Sumedang menurun drastis. Kebun-kebun kurang terurus dan terbengkalai. 

Sehingga kedudukan Raden Aria Satjapati sebagai bupati tidak berlangsung lama dan Kompeni rencananya menurunkan jabatan Raden Satjapati. 

Kompeni terpakasa berupaya keras untuk meningkatkan kembali produksi kopi dengan memperhatikan pengelolaan perkebunan kopi di Sumedang. 

Untuk itu Kompeni mengangkat Raden Aria Surianagara atau Raden Djamu yang sedang menjabat Kepala Cutak Cikalong – untuk menjadi Patih Sumedang. Rencananya juga merangkap sebagai Kepala Cutak Rajapolah.

Menurut beberapa sumber silsilah Eyang Raden Aria Satjapati yaitu anaknya Eyang Dalem Banda Yuda sebagai anak Kanjeng Dalem Rangga Gede yang merupakan anak Pangeran Geusan Ulun yang anak Pangeran Santri.

Makam Raden Aria Satjapati berdampingan dengan makam istrinya yaitu Ratu Nimang Mantri. Sementara 5 makam berjejer tidak jauh, merupakan makam para istri selir Rd. Aria Satjapati. Di Manangga yang ada beringin besar.

Dari berbagai sumber

Komentar

wave

Belum ada komentar.

Tinggalkan Komentar

wave

Cari Artikel