TAPAK RAJA: Wisata Religi dan Edukasi Berbasis Budaya

Daerah pemukiman warga, di Desa Situraja terdapat pohon beringin yang begitu besar, ketinggiannya sekitar 30 meter. Dari bawah pohon tersebut, terdapat situs yang disebut Buyut Situraja, begitu masyarakat setempat menyebutnya. Pada pertengahan tahun, tempat tersebut dipercantik oleh warga setempat dan dukungan penuh oleh pihak kecamatan.

Ketika memasuki area situs tersebut, palawargri tidak akan merasa seperti mencekam, seperti biasanya memasuki tempat-tempat keramat atau pemakaman. Di tempat tersebut disuguhkan dengan nuansa menarik sekali, seperti di film-film kolosal Indonesia zaman kerajaan. Udara yang begitu menyejukan akan membuat palawargi betah. 

Di area tersebut di luar benteng situs, palawargi akan melihat seperti beranda zaman dahulu, dengan bale-bale tempat warga berkumpul, ada rumah khusus untuk menyimpan perkakas zaman dahulu, yang nantinya akan menjadikan sebagai museum perkakas sunda zaman dulu, begitu kata Pak Camat Situraja, Drs. M. Wasman. 

Tempat penyimpanan perkakas tradisional Foto: Ipul

Melalui program “TAPAK RAJA” (Tafakur Kahirupan Rahayat Jaman Baheula), rencananya, dalam satu tempat tersebut ada wisata religi dan wisata edukasi berbasis kebudayaan yang mengenalkan kaum milenial kepada benda-benda atau alat buhun yang biasa digunakan orang tua zaman dulu untuk bertani dan kelengkapan kehidupannya sehari-hari

Kedepannya, museum perkakas zaman dahulu tersebut akan dibuat semenarik mungkin, dengan menggunakan sistem barcode, jadi ketika pengunjung yang datang ke sana akan mendapat penjelasan dari satu persatu perkakas tersebut. Museum tersebut guna untuk memperkenalkan kembali perkakas tradisional yang kerap digunakan oleh leluhur kita, khususnya di Sumedang. 

Beberapa benda yang kerap digunakan zaman dahulu. Foto: Ipul

Sekarang, area di luar benteng situs tersebut sudah dijadikan untuk kumpul-kumpul dari berbagai kalangan yang datang, selain dari para peziarah. Kalau peziarah biasanya setiap hari-hari tertentu, seperti bulan Mulud, Kliwon. Konon katanya, dulu pernah ada rombongan peziarah dari Keraton Jogja dengan berpakaian adat Jawa, sekitar 50 meter dari situs tersebut sudah berjalan merunduk seperti memberi penghormatan kepada Raja. Pengurus situs pun penasaran, apakah ada hubungannya dengan Keraton Jogja? Minimnya literatur hal tersebut, karena para orang tua yang dulu mengurusnya sudah meninggal. 

Nah, palawargi bisa langsung datang saja, jangan lupa harus sopan yah, dan jangan lupa jaga kebersihan tempat tersebut juga. Eits, jangan lupa juga abadikan momen palawargi dan tag akun instagram kami yah, @inimahsumedang

- Sponsored Ad - post-title
Katen Doe
Penulis

INIMAHSUMEDANG

-

Komentar

wave

Belum ada komentar.

Tinggalkan Komentar

wave

Cari Artikel