Tiga Pimpinan Cipayung Plus Beberkan Masalah Gerakan Mahasiswa Sumedang

Tiga pimpinan Cipayung Plus hadir menjadi narasumber dalam acara Kolaborasi Ide Vol. 2 di Badami Coffee pada Jumat (12/05/2023) lalu. Acara tersebut diinisiasi oleh komunitas baru yaitu Dirut Muda (Diskusi Rutinan Anak Muda), yang berfokus pada upaya peningkatan nalar kritis anak muda Sumedang. 

Cipayung Plus sendiri merupakan sebuah forum komunikasi antar organisasi mahasiswa ekstra-kampus yang berdiri sejak masa Orde Baru. Awalnya, forum tersebut bernama "Cipayung" saja dan diprakarsai oleh lima organisasi yaitu Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), dan Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI). 

Seiring waktu, banyak organisasi mahasiswa lain yang turut bergabung ke dalam forum tersebut. Sehingga, identitas "Cipayung" mengalami perubahan yang ditandai dengan penambahan kata "Plus" di belakangnya.

Sementara itu, para pimpinan Cipayung Plus yang hadir dalam acara Jumat lalu itu adalah Mia Aprillia selaku Ketua Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Komisariat UPI Sumedang, Cecep sebagai Ketua Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat UNSAP, dan Ginanjar Pamungkas selaku Ketua Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat UNSAP.

Peserta acara ini bukan hanya terdiri dari  mahasiswa dari area Sumedang Kota saja, melainkan diikuti juga oleh sejumlah aktivis dan mahasiswa dari UIN Bandung, UNPAD, dan UMB.

Dipandu oleh Naufal Al-Zahra, aktivis Pemuda Persatuan Islam (Persis) Sumedang selaku moderator, ketiga pimpinan organisasi tersebut berbagi cerita tentang sejarah dan romantika perjuangan organisasi masing-masing. Mereka mengakui, bahwa masih banyak hal yang harus dievaluasi dari gerakan mahasiswa di Sumedang.

"Hambatan buat kami (PMII) itu bukan cuman berasal dari pihak luar organisasi, tetapi kadang dari para senior yang punya kepentingan.", ujar Cecep.

Sedangkan, Mia merasa, tingkat kecerdasan massa aksi mahasiswa di Sumedang masih relatif minim.
"Waktu demo soal minyak, banyak mahasiswa Sumedang yang ikut aksi. Tapi, kebanyakan dari mereka justru ga ngerti masalahnya, terus mereka malah bikin konten di TikTok sampai jadi FYP.", tutur Ketua IMM Komisariat UPI Sumedang itu.

Ada pun, Ketua HMI Komisariat UNSAP, Ginanjar Pamungkas, dengan optimis menyatakan bahwa kendati gerakan mahasiswa Sumedang masih belum sempurna, ia masih mempunyai harapan untuk masa depan dengan cara menciptakan peluang-peluang yang baru. 
"Sesuai dengan tujuan perjuangan HMI, kader-kader HMI dituntut untuk menjadi pencipta, bukan pengikut atau pengabdi.", terang Ginanjar.

Pembicaraan tersebut diakhiri oleh pembacaan puisi karangan Soe Hoek Gie, selaku ikon gerakan mahasiswa Indonesia, oleh moderator dan ditutup dengan kegiatan foto bersama pada sekitar 17.35 WIB.

Ditulis oleh: 
Naufal Al-Zahra
Aktivis Pemuda Persis Sumedang dan Pegiat Dirut Muda

Komentar

wave

Belum ada komentar.

Tinggalkan Komentar

wave

Cari Artikel