Sementara itu, para pimpinan Cipayung Plus yang hadir dalam acara Jumat lalu itu adalah Mia Aprillia selaku Ketua Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Komisariat UPI Sumedang, Cecep sebagai Ketua Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat UNSAP, dan Ginanjar Pamungkas selaku Ketua Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat UNSAP. Peserta acara ini bukan hanya terdiri dari mahasiswa dari area Sumedang Kota saja, melainkan diikuti juga oleh sejumlah aktivis dan mahasiswa dari UIN Bandung, UNPAD, dan UMB. Dipandu oleh Naufal Al-Zahra, aktivis Pemuda Persatuan Islam (Persis) Sumedang selaku moderator, ketiga pimpinan organisasi tersebut berbagi cerita tentang sejarah dan romantika perjuangan organisasi masing-masing. Mereka mengakui, bahwa masih banyak hal yang harus dievaluasi dari gerakan mahasiswa di Sumedang. "Hambatan buat kami (PMII) itu bukan cuman berasal dari pihak luar organisasi, tetapi kadang dari para senior yang punya kepentingan.", ujar Cecep.
Sedangkan, Mia merasa, tingkat kecerdasan massa aksi mahasiswa di Sumedang masih relatif minim.
"Waktu demo soal minyak, banyak mahasiswa Sumedang yang ikut aksi. Tapi, kebanyakan dari mereka justru ga ngerti masalahnya, terus mereka malah bikin konten di TikTok sampai jadi FYP.", tutur Ketua IMM Komisariat UPI Sumedang itu. Ada pun, Ketua HMI Komisariat UNSAP, Ginanjar Pamungkas, dengan optimis menyatakan bahwa kendati gerakan mahasiswa Sumedang masih belum sempurna, ia masih mempunyai harapan untuk masa depan dengan cara menciptakan peluang-peluang yang baru.
"Sesuai dengan tujuan perjuangan HMI, kader-kader HMI dituntut untuk menjadi pencipta, bukan pengikut atau pengabdi.", terang Ginanjar. Pembicaraan tersebut diakhiri oleh pembacaan puisi karangan Soe Hoek Gie, selaku ikon gerakan mahasiswa Indonesia, oleh moderator dan ditutup dengan kegiatan foto bersama pada sekitar 17.35 WIB. Ditulis oleh:
Naufal Al-Zahra
Aktivis Pemuda Persis Sumedang dan Pegiat Dirut Muda
Belum ada komentar.