Tradisi Rebo Wekasan, dan Beberapa Kegiatan Tolak Bala

Daerah wargi Sumedang apakah masih ada yang mengadakam Rebo Wekasan? Atau wargi Sumedang pernah mendengar tentang Rebo Wekasan? Rebo Wekasan adalah sebuah tradisi yang digelar setiap Rabu terakhir di bulan Safar dalam kalender Islam atau Hijriah. Tahun ini, Rebo Wekasan jatuh pada Rabu, 21 September 2022.

Tradisi sebagai kebudayaan yang memiliki ciri atau kekhasan dalam suatu wilayah tertentu yang dilaksanakan sesuai dengan kebiasaan dan kepercayaan baik personal atau kelompok. 

Fakta kebudayaan pada dasarnya yakni segala macam bentuk gejala kemanusiaan, baik yang mengacu pada sikap, konsepsi, ideologi, perilaku, kebiasaan, karya kreatif. 

Secara konkret kebudayaan bisa mengacu pada adat istiadat, bentuk-bentuk tradisi lisan, karya seni, bahasa, pola interaksi, dengan kata lain kebudayaan secara kompleks memiliki kekhasan pada batas tertentu juga memiliki ciri yang bersifat universal.

Dalam ruang lingkup kebudayaan memiliki berbagai ragam tradisi, di Jawa Barat ini terkenal dengan budaya sunda dengan berbagai macam budaya salah satunya adalah kebudayaan melaksanakan Rebo Wekasan ini umum dilakukan diberbagai daerah dan tidak hanya di Jawa Barat saja.

Pelaksanaan Rebo Wekasaan ini dikatakan setiap daerah memiliki perbedaan dari segi metode palaksanaannya. Akan tetapi, pada intinya dalam melaksanakan Rebo Wekasan ini yakni ingin mendapatkan keselamatan juga menolak bencana talak bala. 

Rebo Wekasan atau Rebo Pungkasan merupakan sebuah tradisi dalam suatu masyarakat yang memperingati hari rabu terakhir di bulan safar atau bulan ke-2 dari 12 bulan penanggalan Hijriyah. 

Selain itu juga menyambut pada bulan selanjutnya yaitu bulan mulud. Dalam prakteknya banyak perbedaan, seperti dengan berdo’a bersama membaca ayat Al-Quran, dengan shalat sunah dan sebagainya. 

Rebo Wekasan memang sangat kental di masyarakat Jawa karena dipercaya sebagai tradisi warisan dari Wali Songo dalam menjalankan dakwah. Rebo Wekasan tradisi yang dilakukan turun temurun khususnya oleh masyarakat di Jawa, Sunda, hingga Madura.

Puasa Rebo Wekasan juga sering disebut puasa tolak bala, sehingga dilaksanakan untuk memohon perlindungan kepada Allah dari berbagai macam bencana dan marabahaya. Sebagian masyarakat percaya Rabu terakhir adalah hari soal sehingga harus diusir dengan cara berpuasa.

Tak hanya berpuasa, dalam Rebo Wekasan juga dilakukan sejumlah kegiatan ibadah. Contohnya seperti sholat berjamaah, berdoa untuk keselamatan, bersedekah, dan bersilaturahim.

Awal mula tradisi Rebo Wekasan dari anjuran Syeikh Ahmad bin Umar Ad-Dairobi (w.1151 H) dalam kitab “Fathul Malik Al-Majid Al-Mu-Allaf Li Naf’il ‘Abid Wa Qam’i Kulli Jabbar ‘Anid.

Selain itu, anjuran serupa juga terdapat pada kitab: ”Al-Jawahir Al-Khams” karya Syeikh Muhammad bin Khathiruddin Al-‘Atthar (w. th 970 H), Hasyiyah As-Sittin, dan sebagainya.

Disebutkan dalam kitab-kitab tersebut, bahwa salah seorang Waliyullah yang telah mencapai maqam kasyaf (kedudukan tinggi dan sulit dimengerti orang lain) mengatakan bahwa dalam setiap tahun pada Rabu terakhir Bulan Shafar, Allah Swt menurunkan 320.000 (tiga ratus dua puluh ribu) macam bala’ dalam satu malam. Oleh karena itu, Beliau memberi saran kepada umat Islam untuk sholat dan berdoa memohon agar dihindarkan dari bala atau malapetaka.

Komentar

wave
  • John Doe

    Maynard

    Sep 30, 2022 22:15

    The modеrn-day competitіve world requires an іnteresting online existence. Partnering witһ the most effective digital marketing ѕеrvices iѕ the only method to atain this purpose. We develop personalized, solid, and creatice digital approac

Tinggalkan Komentar

wave

Cari Artikel