Banyak Memori yang Tidak Bisa Dilupakan di Taman Endog

Waktu kecil, kerap kali main ke Taman Endog (Taman Telur dalam bahasa Indonesia) begitu banyak memori yang tidak bisa dilupakan. Taman yang pada umumnya menjadi tempat bermain, meneduhkan. Banyak anak-anak kecil berlarian "ucing-ucingan" dari mulai "ucing pris" sampai "ucing sumput" , kadang ada juga yang sengaja membawa bola plastik untuk sengaja bermain bola, karena dulu masih banyak rumput yang tertata rapi. Ya, dulu sangat tertata rapi sekali, pohon-pohonnya. Malah kita bisa mempunyai teman-teman baru ketika bermain di sana. 

Setiap pagi, sore dan malam pasti banyak yang berkunjung ke taman itu, berolahraga, melepas penat dari kesibukan kerjaan, dan bahkan mengajak pacar hanya untuk berkeliling taman dan duduk berduaan. Masa-masa itu sungguh menyenangkan bermain di Taman Endog. 

Seiring berjalannya waktu, perkembangan teknologi dan penataan ruang di daerah, beberapa saat Taman Endog teralihkan menjadi tempat para pedagang. Ya, mungkin karena sedang ada pembangunan pasar, jadi mereka memanfaatkan lahan taman. Waktu itu.

Mengingat Taman Endog yang masih berdiri megah, atau ketika melintas melihat ada telur gede banget dan bertanya-tanya, telur apakah itu? Nah, bagi yang belum tahu nih tentang Taman Endog, mimin akan mengupas sedikit tentang telur raksasa itu. 

Taman Endog merupakan salah satu ikon dari sekian banyak ikon yang mempercantik Kabupaten Sumedang. Taman Endog ini, sudah berdiri sejak tahun 1990 oleh Pemerintah Sumedang yang berlokasi di antara pertigaan Jl. Sebelas April (arah ke Wado) dan Jl Mayor Abdurahman (arah Jakarta dan Cirebon. Taman tersebut dibuat sebagai area Ruang Terbuka Hijau. 

Nah, lebih dalam lagi tentang telur besar itu, dilansir dari beberapa artikel, ada yang mengatakan bahwa telur tersebut mempunyai arti filosofis, yaitu menjelaskan tentang proses penciptaan alam Semesta, mulai dari Tuhan menciptakan dunia dari cahaya, membentuk asap tebal menggumpal sampai mengeras menjadi dunia. Kemudian dunia ibarat Telur yang pecah sebagian menjadi langit dan sebagian menjadi bumi, air nya disebut alam tirta, merahnya disebut alam marcapada (yaitu alam dunia yang tampak), putih telurnya ibarat alam mayapada (yaitu alam jin dan sejenisnya) selaput tipis pembungkus putih telur disebut alam wa’dah ghaib dan selaput paling tipis menempel ke kulit telur ibarat alam surya laya (atau alam Rahyang), dewa-dewi (alam malaikat versi islam), sedangkan telurnya ibarat alam hakekat yang tidak bisa diukur oleh akal pikiran manusia. 

Arti filosofis tersebut, terdapat dalam wawacan Endog Sapatalang yang berisi tentang penciptaan yang dijelaskan oleh Ki Wangsa dalam Buku Cipaku. 
Hayu, nongkrong lagi, bermain di Taman Endog!
Semoga tulisan ini bisa bermanfaat untuk teman-teman semua yah. Kurang lebihnya bisa teman-teman tambahkan di kolom komentar.

- Sponsored Ad - post-title
Katen Doe
Penulis

INIMAHSUMEDANG

-

Komentar

wave

Belum ada komentar.

Tinggalkan Komentar

wave

Cari Artikel