Jayadwara Percussion: Meraih Banyak Prestasi Kala Pandemi

Jayadwara Percussion atau biasa disapa JDP dideklarasikan pada Agustus 2020 sebagai jawaban keresahan seniman muda di Sumedang selama pandemi dalam menciptakan ruang kreasi baru, sehingga aktivitas kreatif kekaryaan yang hampir hilang akibat pandemi, dapat kembali dihidupkan dengan memanfaatkan potensi media baru, misalnya pertunjukan musik virtual serta digitalisasi produk karya seni.

Grup musik ini, didirikan oleh dua orang seniman akademis yang juga berprofesi sebagai pendidik dibidang seni Karawitan Sunda. Jayadwara percussion memiliki fokus dalam upaya pelestarian serta pengembangan musik karawitan Sunda agar mampu diterima secara lebih universal tanpa adanya sekat, ras atau suku tertentu, yang diupayakan melalui pengemasan serta inovasi seluruh unsur pertunjukan baik yang bersifat auditif mau pun visual disesuaikan dengan target pasar internasional, serta regenerasi pada ranah inovasi karya seni karawitan Sunda dengan cara memberdayakan generasi muda Sumedang sebagai Sumber Daya Manusia kebudayaan yang memiliki peluang lebih untuk berkembang.

Dalam setahun ini, sudah ada beberapa prestasi yang sudah grup JDP raih, seperti juara 1 Kompetisi Rampak Kendang Virtual 2020 tingkat Nasional, masuk di 5 karya terbaik musik tradisi baru Festival Musik Tembi 2020, karya terpilih dalam Synchronic Of Art Festival, Karya terpilih Music and Tourism Activity Promotion on Pandemic Situation, 12 karya terbaik dan vokalis terbaik LINMTARA 2021, apalagi menjadi penampil di ajang International Ethnic Music Festival 2021 dan karya terpilih pada event Bahana Benua Raja, Indonesian World Music Series di Kutai Kartanegara 2021. Pandemi tidak menyurutkan semangat dan kreativitas teman-teman JDP ini.

Nah, yang lebih keren lagi gaya musiknya nih palawargi!  JDP ini berfokus pada eksprimentasi sistem titi laras serta modifikasi idiom karawitan Sunda dalam menyuguhkan alternatif lain dari sebuah pertunjukan Seni Tradisional, yang dieksekusi melalui re-interpretasi unsur atau media karawitan Sunda secara lebih terbuka dan liar secara komposisi, namun tetap dalam koridor sistem teori karawitan Sunda berdasarkan kaidah ilmu pengetahuan yang disepakati bersama. Maka, audience akan dibawa ke sisi lain pertunjukan karawitan Sunda yang dapat dipastikan merupakan sesuatu yang baru ketika mengapresiasi karya atau kemasan pertunjukan JDP. Hal ini merupakan bentuk edukasi yang mempertegas bahwa musik tradisional Indonesia memiliki potensi inovasi yang tak terhingga, bahkan jika dikelola dengan proporsi yang tepat akan menjadikan musik tradisi kita sebagai kekuatan baru dalam menghalau ekspansi budaya asing. Kuncinya adalah kemasan dan publikasi, dan dua hal tersebut merupakan strategi JDP dalam membentuk ekosistem pasar kami sendiri.

Jayadwara Percussion tampil di International Ethnic Music Festival 2021

Tantangan terberat yang mereka hadapi adalah daya apresiasi mayoritas masyarakat penikmat seni kita yang sudah terlanjur didoktrin secara masif oleh karya seni popular yang datang dari luar wilayah budaya Indonesia dan disebarluaskan oleh media mainstream, disadari atau tidak, fenomena tersebut semakin mempersempit ruang gerak bagi karya musik “eksperimental” atau dengan kata lain yang berpotensi mendobrak sistem distribusi musik populer. Masyarakat semakin nyaman dengan musik yang notabene “seragam”,  yang lebih mampu menyentuh hampir seluruh kalangan masyarakat. Fakta tersebut membuat media mainstream lebih memilih mempromosikan karya musik yang berpeluang besar menghasilkan benefit yang menjanjikan, dibanding harus mengambil resiko dengan mengangkat karya musik “aneh” yang sudah pasti penikmatnya hanya terbatas pada kalangan tertentu.

Target mereka pada tahun 2022 nanti akan mulai merambah ke pasar Eropa, sejauh ini penjajakan sudah mulai dilakukan dengan beberapa kurator maupun produser musik untuk memfasilitasi karya mereka, berkat relasi dari beberpa ponggawa JDP yang memang sudah berpengalaman sebagai performers dibeberapa Negara; Malaysia, China, Turki dan Perancis.

JDP ini memiliki 12 personil, diantaranya; Wendi Kardiana (Kendang 1), Taufik Candiansyah (Rebab), Fuzi Angelia Gamaludin (Vokal), Nikola Natadipraja (Percussi), Salim Kahamad Alkaufi
(Kendang 2), Alamsyah Aditria (Kacapi), Bima Muhammad Wicaksana (Kacapi Bass), Bhisma Raka Nalendra (Bonang), Sendy Dian Permana (Suling), Wildan Waliyudin (Gambang), Syahrul Ansori (Goong) dan M. Faishal Hidayatulloh (Saxophone).

Untuk palawargi yang penasaran tentang JDP ini bisa ikuti @jayadwara atau di chanel youtube mereka Jayadwara Percussion. Palawargi bisa mendengar dan melihat langsung sajian musik dan kreasi mereka. Apalagi bulan ini mereka akan mengeluarkan musik video loh yang bertajuk SIKOE SIWOELOE WOELOE GALAGAH KANCANA.

- Sponsored Ad - post-title
Katen Doe
Penulis

INIMAHSUMEDANG

-

Komentar

wave

Belum ada komentar.

Tinggalkan Komentar

wave

Cari Artikel