Kesenian Tarawangsa (1): Mengenal Tarawangsa di Rancakalong

Jika mendengar Rancakalong, pasti selain kopi yang sekarang kerap diperbincangkan di anak muda ada kesenian buhun yang sampai saat ini masih dilestarikan secara turun temurun. Apalagi dengan kemajuan zaman, media sosial begitu membantu dan bisa memperkenalkan salah satu kesenian khas ini ke berbagai penjuru. Tarawangsa, pasti sudah banyak mendengar kesenian ini kan?

Tarawangsa adalah salah satu kesenian rakyat di Jawa Barat.  Tarawangsa merupakan alat musik gesek yang memiliki dua dawai yang berbahan kawat baja atau besi. Alat musik gesek ini, biasa terbuat dari kayu kenanga, jengkol dan kemiri. Alat musik gesek ini biasanya dimainkan bersama jentreng, alat petik yang terdiri dari tujuh dawai seperti kecapi.

Bentuk tarawangsa yang mirip rebab ini, diduga lebih tua karena sudah disebut dalam naskah Sewaka Darma (sebelum abad ke-15). Adapun rebab muncul di Jawa setelah zaman Islam sekitar abad ke-15-16, adaptasi dari alat gesek Timur Tengah yang dibawa penyebar Islam dari Arab dan India. Setelah kemunculan rebab, tarawangsa disebut rebab jangkung karena ukurannya lebih tinggi ketimbang rebab.

Kesenian tarawangsa ini, dimainkan sebagai rasa ucapan syukur setelah panen dan wujud penghormatan kepada Dewi Sri. Kesenian Tarawangsa juga kini dipentaskan dalam berbagai perayaan, seperti khitanan, syukuran rumah, hingga perayaan besar. Adapun yang rutinan tahunan yang diselenggarakan oleh masyarakat Rancakalong Sumedang seperti, upacara adat ngalaksa, dan bubur suro. 

Para pemain Tarawangsa. Foto: Sae

Nah, pemain tarawangsa ini terdiri dari dua orang. Satu pemain tarawangsa, dan yang satunya lagi pemain jentreng. Biasanya dimainkan oleh laki-laki dengan usia yang bisa dibilang tua. Tetapi kini, para pemain tarawangsa sudah beregenarasi, banyak anak muda yang turut serta melestarikan kesenian tarawangsa ini. Pertunjukan tarawangsa ini, selain ke dua pemain yang akan mengiringi musik yang khas itu, melibatkan penari laki-laki dan perempuan. Nah, tetapi untuk para penari ini bergantian. Para penonton pun bisa terlibat juga ikut menari hingga trance.

Jangan heran, jika palawargi datang ke tempat yang menyelenggarakan kesenian sakral tarawangsa tersebut akan menemukan seperti sesajen yang penuh dengan arti dan kepulan asap kemenyan. Selain kedua orang pemain musik, adapun beberapa peran yang harus ada dalam penyajian Tarawangsa, diantaranya yaitu nu boga hajat (Yang mempunyai maksud), Saehu (sesepuh laki-laki yang memimpin acara), Peribuan (tujuh orang ibu-ibu yang mendampingi saehu). 

Pada kesenian tarawangsa sendiri, ada tiga susunan pokok acara yang wajib ada, yaitu ngalungsurkeun atau disebut proses memulai acara dengan tujuh orang peribuan yang menurunkan pangkonan (berbagai macam alat make up dan gabah) dan ngalungsurkeun, ini dimulai dari jam 21.00 sampai dengan jam 00.00. Kemudian dilanjutkan dengan acara selanjutnya yaitu nyumpingkeun atau disebut proses menjemput Dewi Sri atau Nyi Pohaci, nah ketujuh orang peribuan membentuk formasi lingkaran dengan di dalam lingkaran tersebut ada satu orang ibu-ibu biasanya yang mempunyai maksud dan dimulai dari 02.30 sampai dengan jam 03.00 langsung di lanjutkan ke acara terakhir yaitu nginebkeun atau disebut proses di mana pangkonan yang di acara sebelumnya yaitu ngalungsurkeun dikebalikan ke tempat semula.

Begitu menarik sekali kan kesenian tarawangsa tersebut. Kita akan kaya dengan budayanya, jadi kita harus terus ikut serta terlibat dalam melestarikan budaya kesenian leluhur kita. Nah, kita akan lanjut nanti untuk pembahasan tentang kesenian tarawangsa ini.

- Sponsored Ad - post-title
Katen Doe
Penulis

INIMAHSUMEDANG

-

Komentar

wave
  • John Doe

    Sharron

    Jul 20, 2022 06:34

    ⲟbviߋusly like yoᥙr web site but уou һave to checҝ the spelling on several of your posts. Many of them are rife witһ spelling issues and I fіnd it verү bothersome to tell the truth however I'lⅼ ѕurely come back again.

Tinggalkan Komentar

wave

Cari Artikel