Keutamaan Nyawalan dan Pahala yang Berlimpah

Memasuki bulan Syawal yang artinya kembali suci, kebiasaan baik tersebut dapat berlanjut sehingga dengan berpuasa kesucian jiwa dapat terjaga.

Kebiasaan tersebut juga dilakukan di Tatar Sunda loh wargi Sumedang, Haji Hasan Mustapa membahasnya dalam Bab Adat-adat Oerang Priangan djeung Oerang Soenda lian ti eta (1913: 133-134).

Katanya, “Katoeroeg-toeroeg poe kadoea aja deui adat perbawa ti agama soenat poeasa njawalan (tina boelan  sawal) djadi sok aja kolot2 alim2 anoe ngalampahkeun, djadi lebaranana sanggeus poeasa genep poe, ngaranna lebaran Sawal, dina tanggal dalapan; henteu rame ngan dahar sabatoer-batoer soemawon noe ngalampahkeun poeasa, atawa noe ngalampahkeun perlampahan lebaran”.

Artinya, pada hari kedua ada lagi adat dari agama, berpuasa sunat yang disebut nyawalan (puasa pada bulan Syawal), biasa ada orang-orang tua atau para alim yang melakukannya Lebarannya setelah puasa enam hari, yaitu pada tanggal delapan Syawal, namanya lebaran Syawal; tidak ramai hanya makan bersama, terutama bagi orang yang melakukan puasa sunat itu atau yang melakukan lebaran kedua pada hari itu (terjemahan M. Maryati Sastrawijaya, Adat Istiadat Sunda, 2010: 199-200).

Puasa Syawal menjadi bukti bahwa kebiasaan yang baik dan dilandasi dengan keimanan akan terus berlanjut. Sehingga menjadikan semua bulan dalam setahun dapat diisi dengan ibadah puasa.

Kualitas dan kuantitas ibadah yang diperbaharui selama bulan Ramadan, hendaknya dapat terus terjaga. Puasa Syawal dapat dikatakan sambungan ibadah agar amalan yang sudah dilakukan tidak berhenti saat Ramadhan telah usai.

Begitulah bahasan mengenai keutamaan puasa Syawal, semoga amal ibadah kita semua diterima Allah SWT, dan dapat berjumpa kembali dengan Ramadan yang akan datang.

Halaman Sebelumnya

Komentar

wave

Belum ada komentar.

Tinggalkan Komentar

wave

Cari Artikel