Masjid Besar Tegalkalong Saksi Tragedi Berdarah

Jika bermain di Alun-alun Sumedang Utara, atau dikenalnya Alun-alun Tegalkalong yang sekarang sudah menjadi salah satu tempat favorit nongkrong atau tempat bermainnya dari mulai anak-anak hingga lansia. Kala mimin kecil dulu, sekitar tahun 90an tempat tersebut pernah menjadi lapangan tenis. Alun-alun tersebut berada di Kelurahan Talun Kecamatan Sumedang Utara. 

Di kawasan Alun-alun tersebut, masih ada pohon beringin yang yang meneduhkan. Selain itu, ada pendopo tempat Kantor Kecamatan Sumedang Utara dan Masjid Besar Tegalkalong. Wargi Sumedang tentunya tahu dong, di Sumedang Masjid tersebut bisa dikatakan merupakan salah satu saksi sejarah perkembangan Kerajaan Sumedanglarang zaman dulu. Ketika pusat pemerintahan kerajaan Sumedanglarang dipindahkan dari Dayeuh Luhur ke Tegalkalong, sebagai kelengkapan kota dibangunlah masjid. Kebetulan pada waktu itu Sumedanglarang sudah berada di bawah kekuasaan Mataram Islam.

Anak-anak sedang bermain di Alun-alun Tegalkalong. Foto: Ipul

R. Suriadiwangsa yang menggantikan Prabu Geusan Ulun membangunan masjid yang berbentuk bangunan permanen segi empat berukuran 22 x 8 m pada tahun 1600-an. Ruang utamanya dilengkapi dengan pintu-pintu dan jendela-jendela. Masjid ini beratap tumpang yang disangga empat tiang utama atau saka guru dengan puncaknya dilengkapi dengan mustaka. Selain ruang utama, masjid dilengkapi juga dengan teras dan tempat wudhu. Pada bagian masjid terdapat halaman yang dilengkapi dengan pagar keliling dengan dua pintu. Semula masjid merupakan bangunan rumah panggung, dinding dari anyaman bambu atau bilik. Setelah mengalami beberapa kali pemugaran, sekarang sudah bagus sekali.

Nah sesuai tulisan di atas, masjid tersebut sebagai saksi sejarah, ada peristiwa yang cukup penting di masjid tersebut, yaitu ketika pada tahun 1678 terjadinya serangan tentara Kesultanan Banten. Tulisan di bawah dikutip dalam buku Sumedang Heritage:

Pada saat itu di Mataram pun terjadi pergantian penguasa, Amangkurat I diganti oleh Amangkurat II. Amangkurat II mengirim utusan bernama Dirapraja ke Sumedang untuk mengontrol dan meminta agar bupati Sumedang tetap setia kepada Mataram. Akan tetapi Pangeran Panembahan menolak permintaan itu, Sumedang menyatakan melepaskan diri dari Mataram. 

Atas kemenangan Sumedang mengusir Banten ini pada tanggal 14 Juni 1678 Kompeni menyampaikan ucapan selamat. Kompeni pun berjanji akan membantu Sumedang dengan mengirim persenjataan. Satu bulan kemudian, yakni tanggal 19 Juli 1678 VOC mengutus Jochem Michels ke Sumedang menghadiahi senjata dan mesiu. Saat itu pun penjagaan muara Ciasem dan Pamanukan dengan kapal-kapal VOC berakhir. Atas kepiawaian Pangeran  Panembahan dalam bernegosiasi, pada tanggal 7 Agustus 1678 Jochem Michels datang lagi ke Sumedang dengan menghadiahkan enam meriam, 70 kalantaka (meriam kecil), 70 bandelir (ikat bahu yang menyilang di dada), 150 peluru meriam dan satu tong peluru senapan).

Memanfaatkan kehadiran Jochem Michels di Sumedang, Pangeran Panembahan meminta pejabat Kompeni ini untuk membuat pernyataan bahwa Pangeran Panembahan diangkat menjadi raja. Namun Jochem Michels menolaknya. 

Tiga bulan kemudian setalah pasukan Banten mundur, pada 8 September 1678 Kesultanan Banten mengirimkan pasukan sebanyak 10 kapal  yang membawa 1000 prajurit untuk menyerang lagi Sumedang. Tanpa ada perlawanan pasukan Banten berhasil memasuki muara Ciparagi, Ciasem dan Pamanukan. Daerah-daerah itu dihancurkan. Bupati Pamanukan, Wangsatanu, terkepung. Bupati Ciasem, Imbawangsa, yang juga saudara sepupu Pangeran Panembahan, ditawan dan kemudian dibunuh. Untuk menuju Sumedang, pasukan Banten dibantu oleh pasukan dari Bali yang dipimpin oleh Cilikwidara dan Cakrayuda, yang merupakan menantu Wiraangun-angun, bupati Bandung. Turut membatu Banten juga bupati Sukapura. Gabungan berbagai kekuatan itu mengepung Sumedang pada bulan Ramadhan dan mereka menyerang Sumedang saat lebaran yang bertepatan pada hari Jumat, tepatnya tanggal 18 Oktober 1678. Rakyat dan pembesar Sumedang yang sedang berada di Masjid Tegalkalong banyak yang gugur. Pejabat Sumedang yang gugur di antaranya;
Tumenggung Jagatsatru, Raden Dipa, Aria Santapura dan Mas Bayun. Sebagian keluarga Pangeran Panembahan ditawan, yaitu: Raden Singamanggala, Raden Bagus, Raden Tanusuta; sedangkan Pangeran Panembahan sendiri berhasil lolos. 

Berdasarkan tragedi tersebut, sampai sekarang Bupati Sumedang tidak diperkenankan untuk melakukan salat Idul Fitri di Sumedang ketika Idul Fitri jatuh pada hari Jumat. Bupati Sumedang harus salat Ied di luar Sumedang.
Prabu Geusan Ulun memiliki tiga orang istri. Yang pertama Nyi Mas Cukang Gedeng Waru, putri Sunan Pada. Kedua Ratu Harisbaya dari Cirebon, dan yang ketiga Nyi Mas Pasarean. Dari ketiga istrinya tersebut ia memiliki lima belas anak dan Pangeran Tumenggung Tegalkalong ini anak ke-14.

Nah jadi begitu wargi Sumedang, sepintas cuplikan cerita tragedi berdarah di Tegalkalong tersebut, jika ada tambahan boleh isi di kolom komentar yah. 

- Sponsored Ad - post-title
Katen Doe
Penulis

INIMAHSUMEDANG

-

Komentar

wave
  • John Doe

    Finley

    May 06, 2022 02:14

    When someߋne writeѕ an paragrɑph he/she keeps the pⅼan of a user in his/her mind that how a user can understand it. So that's why this post is perfect. Thanks!

  • John Doe

    Jacquie

    May 06, 2022 07:13

    Inspiring quеst there. What occurreɗ after? Take care!

  • John Doe

    Gale

    May 06, 2022 09:27

    Great article.

  • John Doe

    Jonathan

    May 06, 2022 20:49

    This is the perfеct webpage for everyone who wants to understand this topіc. You underѕtand so much its ɑlmost tough to argue with you (not that I persοnally would want to…HaHa). You ⅽertainly put a brand new spin on a topic that has been discussed

  • John Doe

    Muriel

    May 07, 2022 04:11

    It's appropriate time to mаke a few plans for thе long run and it is time to be happʏ. I've learn this post and іf I may I wаnt to suggest you few intereѕting things or advice. Maybe you could write next articles referring to this article. I wish to

Tinggalkan Komentar

wave

Cari Artikel