"Tajudin menegaskan bahwa di Sumedang belum ada Muhammadiyah dan meminta Abdullah Hakim untuk meninjaunya.", seperti yang penulis kutip dari monograf sebelumnya.
Keesokan hari setelah perjumpaan itu, Abdullah kemudian berkunjung ke Sumedang untuk memenuhi permintaan sahabatnya. Atas dorongan Tajudin dan rekomendasi seorang birokrat di Sumedang, Abdullah bahkan diangkat menjadi guru agama di SMP Negeri Sumedang pada awal 1952. Seiring dengan kehadiran mereka itulah benih gerakan Muhammadiyah dipersiapkan agar kelak suatu hari organisasi ini dapat tumbuh di Sumedang.
Peresmian Cabang
Peresmian cabang Muhammadiyah di Sumedang terjadi pada pertengahan tahun 1953. Dalam koran berbahasa Belanda, AID de Preanger Bode yang terbit pada Selasa 9 Juni 1953, dinyatakan bahwa Muhammadiyah resmi berdiri di Sumedang pada Sabtu malam, bertepatan dengan 6 Juni 1953.
Berdasarkan data yang diperoleh dari monograf PDM Sumedang, pembentukan cabang Muhammadiyah Sumedang merupakan resolusi yang dihasilkan dalam pelaksanaan Konferensi Muhammadiyah Priangan pada 1953. Namun, sampai saat ini, data tersebut belum bisa diverifikasi.
Kala itu, yang hadir meresmikan pembentukan cabang Muhammadiyah Sumedang ialah K.H. Asnawi Hadisiswojo, Konsul Muhammadiyah Priangan. Sedangkan, yang terpilih menjadi ketuanya adalah Moh. Toha, putra daerah asli Sumedang. Inilah uniknya, sekali pun Muhammadiyah Sumedang dirintis oleh orang-orang Minang, namun dalam kenyataannya, tongkat kepemimpinan organisasi ini diserahkan kepada putra asli daerah, bukan kepada kalangan mereka sendiri.
Tidak disebutkan secara rinci ihwal lokasi peresmian cabang Muhammadiyah Sumedang. Meski begitu, disebutkan dalam koran ini, setelah diresmikan, Muhammadiyah Sumedang akan melakukan kegiatan bakti sosial dengan mendistribusikan sejumlah bantuan seperti pakaian, beras, dan uang kepada kaum duafa di pedesaan menjelang hari raya Idul Fitri.
Halaman Selanjutnya
Belum ada komentar.