Tapi, pada masa Raffles pun tak pernah tercatat kunjungannya ke daerah Priangan. Peristiwa pertemuan dan jabat tangan Daendels-Kusumadinata IX justru laris manis di berbagai cerita maupun tutur lisan masyarakat.
Munculnya legenda Daendels-Kusumadinata IX, menurut Marihandono, menunjukan polarisasi politik semasa dan setelah pemerintahan Daendels. Tak hanya terjadi sebatas pada kalangan Eropa, tetapi juga melibatkan kaum bumi putera.
“Munculnya legenda itu menunjukkan beberapa kalangan pejabat Eropa berusaha menciptakan citra tentang Daendels di mata para elit penguasa dan masyarakat bumi putera,” tulis Marihandono. “Hal ini sengaja dimunculkan dan digunakan oleh orang-orang Eropa anti Daendels untuk menyatakan mega proyek Daendels tidak berhasil mengentaskan kondisi kehidupan rakyat.”
Kenyataanya, cerita heroik tersebut masih diperdebatkan. Sebagian mengamini. Lainnya tidak mempercayai, karena sumbernya berasal dari cerita yang dituturkan secara lisan turun temurun di kalangan petinggi dan rakyat Sumedang.
Halaman Sebelumnya
Joyce
May 10, 2023 00:16Remarkable! Its really awesοme post, I have got much cⅼear idea about from this paragraph.