Beberapa Tempat yang Masih Ada "Pamali" di Sumedang

Tentunya pernah mendengar kata pamali kan wargi Sumedang? Kata tersebut kerap disebutksn terutama oleh orang tua kita dengan maksud melarang agar tidak dilakukan. Okey, kita kupas dulu tentang pamali yah wargi Sumedang. Pamali sangat populer sekali di masyarakat Indonesia ini, apalagi di tanah Sunda. Pamali, memiliki artian larangan atau pantangan turun temurun. Pamali juga kerap dikaitkan dengan hal-hal mitos yang ada di lingkungan sekitar. 

Sumedang, kental sekali akan nilai kebudayaannya. Foklor yang secara lisan turun temurun dari pendahulu. Ada beberapa tempat seperti hutan larangan, sirah cai (mata air) yang kerap menjadikan sebuah pamali jika memasuki wliayah tersebut, guna untuk menjaga keasriannya. Nah, ada juga pamali yang secara lisan turun temurun dibeberapa tempat di Sumedang nih, yuk simak!

1. Mengganti Kata Ucing dengan Enyeng

Kalau pamali tersebut tentunya sudah tidak asing lagi kan bagi wargi Sumedang? Ya, salah satunya di Desa Cipancar Kecamatan Sumedang Selatan. Masyarakat setempat, mengganti kata "ucing" (dalam bahasa indonesia kucing) dengan kata lain yaitu "enyeng". Hal tabu tersebut sudah berlaku lama sekali, jadi masyarakat setempat sudah terbiasa, dari mulai anak kecil hingga generasi tua menyebut kata ucing dengan enyeng. Konon katanya, kenapa masyarakat tidak boleh menyebut kata ucing di sana, karena menghormati leluhur di sana yang bernama Mbah Dalem Prabu Madu Ucing, yang ada keterkaitan dengan penamaan leluhur di sana. Jika masyarakat setempat melanggar, akan terjadi bencana.

2. Mengganti Kata Peda, Jalu dan Tetenong

Maju lagi beberapa meter dari Desa Cipancar, ada Desa Citengah, yang banyak tempat wisatanya. Ternyata, dari keindahan desa tersebut, ada sebuah larangan di desa tersebut, yaitu ucapan "peda" (ikan asin). Masyarakat setempat tidak boleh mengucapkan kata tersebut, harus diganti dengan bedog mintul (golok tumpul dalam bahasa indonesia). Larangan tersebut sudah lama sekali keberadaannya dari karuhun yang tidak boleh disbutkan namanya. Jika melanggar kata tersebut akan ada bencana yang menimpa, ada juga dibeberapa dusun yang mengganti kata "jalu" dengan "lalakina" dan "tetenong dengan "sosokan".

3. Larangan Menggunakan Batik di Dayeuh Luhur.

Siapa sih, yang tidak tahu Dayeuh Luhur, tempat bersejarah bagi Sumedang. Salah satu tempat yang pernah menjadi pusat kerajaan Sumedang pada waktu itu. Selain itu juga ada beberapa makam Raja Sumedang yakni makam Prabu Geusan Ulun, Makam Ratu Harisbaya, dan Makam Pangeran Rangga Gempol I. Makam Pangeran Rangga Gempol I merupakan makam pindahan dari Yogyakarta pada tahun 1998. Ketiga makam itu adalah raja-raja Sumedang Larang.
Berkaitan dengan larangan yang ada di Dayeuh Luhur, Gunung Rengganis Kecamatan Ganeas tersebut, adanya sebuah petilasan Embah Jaya Perkasa. Memakai batik bagi keturunan Embah Jaya Perkasa ternyata dilarang bagi keturunannya saat berziarah ke petilasannya, konon hal tersebut terkait sumpah yang diucapkan Embah Jaya Perkasa saat menghilang tanpa bekas di Gunung tersebut usai menghadap sang Raja Prabu Geusan Ulun, jika ada yang melanggar hal tersebut, akan ada musibah seperti hujan deras disertai angin.

4. Pamali di Dusun Mandalang

Dusun Mandalang adalah sebuah dusun yang terletak di perbatasan antara Desa Buahdua dan Desa Gendereh di Kecamatan Buahdua. Nah, di daerah tersebut, ternyata ada pamali yang lebih dari satu, apa aja sih?
Pamali yang pertama yaitu, tidak boleh menangkap monyet yang berkeliaran di area situs. Jika melanggar, akan terkena musibah seperti gatal-gatal terus menerus sebelum monyet itu dilepaskan kembali. Nah, yang kedua adalah tidak boleh menyebut salam (bumbu dapur) atau daun salam, sebagai gantinya, masyarakat setempat menyebut dengan daun kopo.  Hal tersebut untuk menghormati leluhur di sana yaitu Buyut Malandang atau Rd. Agus Salam.

Dari semua hal yang dilarang atau pamali di beberapa daerah tersebut, yang sudah dilakukan atau dipercayai oleh masyarakat setempat, kita bisa menghargainya. Akan tetapi, kebenaran terkait kepercayaan tersebut bisa dikembalikan lagi kepada kepercayaan wargi masing-masing, karena ada beberapa hal yang hanya dianggap mitos. Meskipun demikian, di luar konteks mitos bisa dikatakan bahwa laranganan tersebut sebenarnya memiliki tujuan untuk kebaikan bernilai positif. 

Nah, wargi Sumedang bisa sebutkan nih ke mimin, jika ada yang kurang, di daerah mana lagi nih yang ada secara lisan sebuah pamali, khususnya di daerah Sumedang. Ayo komen di bawah yah!

​​​

 
 

 

 

- Sponsored Ad - post-title
Katen Doe
Penulis

INIMAHSUMEDANG

-

Komentar

wave
  • John Doe

    inimahsumedang

    Jan 06, 2022 14:30

    Yuk Komen buat yang tahu tempat lainnya

Tinggalkan Komentar

wave

Cari Artikel