Sambal Kadedemes: Menolak Punah, Kulit Singkong Khas Sumedang Kini Tampil Kekinian

Author inimahsumedang • Berita • May 13, 2026

Kuliner legendaris Kadedemes yang sempat dinyatakan hampir punah pada 2024, kini menemukan napas baru. Lewat sentuhan inovasi mahasiswa, olahan kulit singkong yang nyaris terlupakan ini disulap menjadi produk bernilai ekonomi tinggi: Sambal Kadedemes.

Berawal dari keprihatinan atas laporan kelangkaan kuliner khas “Kota Tahu”, Indah dan Khaila, mahasiswi Manajemen Industri Katering UPI Bandung, melakukan langkah konkret dalam program magang mereka di Dinas Pertanian Ketahanan Pangan Kabupaten Sumedang. Mereka terjun ke enam kecamatan—Tanjungkerta, Paseh, Cimalaka, Pamulihan, Tanjungsari, dan Rancakalon—untuk memetakan keberadaan panganan tradisional ini.

Hasilnya cukup mengejutkan. Meski Sumedang kaya akan komoditas singkong, Kadedemes jarang ditemukan di pasar maupun pusat oleh-oleh. “Kebanyakan hanya dibuat untuk konsumsi rumahan oleh kalangan orang tua,” ungkap Indah (25/04). Rendahnya minat generasi muda dan tampilan yang dianggap kurang menarik menjadi faktor utama Kadedemes mulai ditinggalkan.

Inovasi Rasa dan Pemberdayaan Menjawab tantangan tersebut, Indah dan Khaila memutuskan untuk memodifikasi resep asli. Tanpa menghilangkan karakter rempah kencur yang khas, mereka menghadirkan Sambal Kadedemes dengan varian topping ayam suwir dan ikan teri kacang. Transformasi ini tidak hanya memperbaiki tampilan, tetapi juga membuat produk lebih tahan lama dan praktis dikonsumsi.

Uji coba resep ini dilakukan bersama Kelompok Wanita Tani (KWT) di Desa Cibeureum Wetan dan Cibeureum Kulon pada April 2026 lalu. Kolaborasi ini bertujuan untuk memberdayakan ekonomi warga lokal dengan memanfaatkan bahan baku yang selama ini sering dianggap limbah atau bernilai rendah.

Menuju Ikon Oleh-Oleh Baru “Setelah ini, kami akan melakukan taste test ke berbagai kalangan untuk menguji kelayakan pasar,” tambah Khaila. Harapannya besar, Sambal Kadedemes bisa sejajar dengan ikon kuliner Sumedang lainnya seperti Tahu Sumedang atau Ubi Cilembu.

Melalui inovasi ini, generasi muda diharapkan tidak hanya mengenal sejarah, tetapi juga bangga mengonsumsi dan melestarikan budaya lokal. Membeli produk lokal adalah langkah nyata untuk memastikan warisan kuliner Indonesia tetap hidup di tengah arus modernisasi.