80 Tahun Indonesia Merdeka: Bersatu Bedaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju

Author inimahsumedang • Berita • August 16, 2025

Delapan puluh tahun lalu, bangsa ini berdiri dengan lantang menyatakan dirinya merdeka. Sebuah kemerdekaan yang lahir dari darah dan air mata, dari doa yang tak pernah putus, dari keyakinan bahwa bangsa ini berhak berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia.

Di tanah Sunda, Sumedang Larang menyimpan jejak kebesaran sejarah yang tak lekang oleh waktu. Di balik bukit dan lembahnya, masih terpatri kisah tentang kejayaan Sunda Pajajaran, kerajaan besar yang pernah menjadi simbol kebanggaan orang Sunda. Pajajaran berdiri bukan hanya dengan kekuatan militernya, tetapi dengan kebijaksanaan pemimpinnya, dengan filosofi silih asah, silih asih, silih asuh yang memuliakan persaudaraan dan gotong royong. Dari Pajajaran kita belajar, bahwa kekuasaan tanpa kearifan hanyalah bayang semu; sejatinya kemuliaan terletak pada kemampuan menjaga martabat dan melindungi rakyat.

Ketika masa Pajajaran berakhir, Sumedang Larang mengambil alih panji-panji kebesaran itu. Prabu Geusan Ulun berdiri sebagai penerus, menjaga warisan, sekaligus menyalakan kembali api semangat agar tatar Sunda tidak kehilangan jati diri. Sejarah ini memberi pesan abadi: bahwa peradaban boleh berganti, tetapi spirit kebesaran harus terus diwariskan. Bahwa di dalam diri orang Sunda, dan dalam diri bangsa Indonesia, selalu ada keberanian untuk bangkit, selalu ada tekad untuk menjaga kehormatan.

Semangat itu tidak padam ketika zaman berganti. Menjelang abad ke-20, ketika penjajahan masih mencengkeram, putra-putri Sumedang dan tanah Sunda bangkit memberi kontribusi bagi perjuangan bangsa. Kita mengenang Pangeran Kornel (Koesoemahdinata IX), Bupati Sumedang yang gagah berani menentang ketidakadilan kolonial, hingga dikenal dengan kisah heroik yang diabadikan sebagai monumen di Cadas Pangeran. Sosok ini menjadi simbol keberanian menghadapi penjajah tanpa gentar.

Kita juga mengingat Otto Iskandar di Nata, pejuang bangsa yang darah Sunda-nya menyala di setiap langkah perjuangan. Ia bukan hanya politisi, melainkan pejuang sejati yang ikut merumuskan dasar-dasar Indonesia merdeka, dan akhirnya gugur sebagai pahlawan revolusi. Dari Sumedang pula lahir para pejuang lokal, tokoh pemuda, ulama, hingga santri yang ikut mengangkat senjata dalam pertempuran rakyat, dari Bandung Lautan Api hingga perlawanan di pedesaan.

Nama-nama besar itu hanya sebagian dari ribuan pejuang tak dikenal yang mungkin tidak tercatat dalam buku sejarah nasional, namun jasanya nyata bagi tanah air. Mereka adalah para guru, petani, pelajar, dan rakyat kecil yang rela mengorbankan jiwa demi merah putih. Dari darah dan keberanian mereka, lahirlah Indonesia yang kita nikmati hari ini.

Delapan puluh tahun kemudian, pertanyaan besar muncul: apakah kita sungguh telah merdeka? Merdeka bukan sekadar terbebas dari penjajahan asing. Merdeka berarti mampu berdiri di atas kaki sendiri, merdeka dari kebodohan, merdeka dari kemiskinan, merdeka dari segala bentuk ketidakadilan yang masih mengekang. Kemerdekaan adalah keberanian untuk percaya pada potensi bangsa sendiri, keyakinan untuk terus melangkah ke depan meski dunia berubah begitu cepat.

Di Sumedang, potensi itu tampak nyata. Sawah-sawah hijau yang membentang, hasil bumi yang melimpah, seni dan budaya yang terus hidup dalam denyut masyarakat, serta kreativitas anak muda yang kini tumbuh di panggung digital. Dari tatanan sederhana lahir mimpi besar. Dari nilai-nilai Sunda yang penuh kesantunan lahir semangat ka-Sumedang-an: lembut tapi tangguh, sederhana tapi bermakna, lokal namun bercita-cita mendunia.

Inilah spirit yang harus menjadi wajah Indonesia baru. Sebuah bangsa yang tidak kehilangan akarnya, namun berani menatap masa depan dengan percaya diri. Sebuah bangsa yang belajar dari kebesaran Pajajaran, dari heroisme para pejuang Sunda, memahami zaman yang sedang dijalani, lalu bersiap menjemput masa depan dengan gagah berani. Merdeka sejati adalah keberanian untuk bekerja, berkarya, dan memberi makna bagi sesama.

Sumedang membawa pesan bahwa yang lokal bisa menjadi inspirasi dunia. Dari tanah Sunda, kita belajar bahwa nilai-nilai leluhur bisa menjadi landasan untuk melahirkan inovasi. Dari Sumedang untuk Indonesia, dari Indonesia untuk dunia, semangat ini harus terus dijaga agar bangsa ini tidak hanya dikenal karena sejarahnya, tetapi juga dihormati karena karyanya.

Delapan puluh tahun Indonesia merdeka adalah momentum untuk merenung sekaligus bergerak. Merenungkan apa arti kemerdekaan sejati, dan bergerak untuk menjadikannya nyata dalam kehidupan sehari-hari. Saatnya bangsa ini merayakan kemerdekaan bukan hanya dengan kata, tetapi dengan karya.

Dan ketika bendera merah putih berkibar di langit Agustus, dari Sumedang kita kirimkan doa dan tekad: semoga Indonesia terus jaya, semoga bangsa ini menjadi cahaya, semoga kemerdekaan benar-benar menghadirkan kesejahteraan dan kebahagiaan bagi seluruh rakyatnya.

Selamat 80 Tahun Indonesia Merdeka. Dari Sumedang untuk Indonesia, dari Indonesia untuk Dunia. 🇮🇩
#Indonesia80thn #MakinTahuIndonesia